Penulis : Murod Ahmed (Pengamat/ Pemerhati Laskar Keadilan)
Editor : Sigit
Kalau kita bicara soal organisasi baik Organisasi Kekaderan maupun Organisasi massa, apalagi yang punya basis hingga desa dan kecamatan, rasanya sulit untuk tidak menyinggung soal dinamika internal dan hubungannya dengan kekuasaan lokal. Laskar Keadilan yang sebentar lagi akan menggelar Kongres ke-2 di Parigi Moutong, pada tanggal 11-12 Oktober 2025, adalah contoh nyata betapa organisasi bukan sekadar kumpulan orang, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan, kepentingan, dan bahkan pertarungan pengaruh.
Kongres kali ini jelas berbeda atmosfernya. Sebab, kita tahu persis Parigi Moutong baru saja punya bupati dan wakil bupati baru. Pergantian kepemimpinan daerah ini otomatis menciptakan babak baru relasi antara kekuatan sosial-politik di tingkat akar rumput dengan pusat kekuasaan. Laskar Keadilan, dengan jaringan yang merata sampai ranting desa, punya posisi strategis untuk menentukan apakah mereka sekadar jadi penonton, atau benar-benar ikut jadi pemain yang mewarnai arah pembangunan daerah.
Tantangan Internal: Soliditas atau Sekadar Formalitas:
Setiap kali ada kongres, biasanya yang paling ramai dibicarakan adalah siapa yang jadi ketua. Itu lumrah, karena kursi kepemimpinan identik dengan akses, kuasa, dan arah organisasi. Tapi mari kita jujur: terlalu sering energi habis hanya untuk rebutan posisi, bukan merancang strategi. Jika ini yang terulang di Kongres ke-2 nanti, maka jangan harap Laskar Keadilan bisa naik kelas menjadi organisasi yang diperhitungkan.
Soliditas internal adalah harga mati. Tapi soliditas itu bukan berarti semua harus seragam atau anti kritik. Justru sebaliknya, organisasi akan kuat kalau ada ruang dialektika, ada mekanisme kritik membangun, dan ada kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan. Pertanyaannya: apakah para kader Laskar Keadilan siap menggeser orientasi kongres dari "rebutan kursi" menuju "adu gagasan"?
Hubungan dengan Kepemimpinan Daerah Baru
Konteks Parigi Moutong sekarang menarik. Bupati dan wakil bupati baru butuh mitra sosial yang kuat untuk menopang legitimasi sekaligus menyalurkan aspirasi warga. Di sisi lain, organisasi seperti Laskar Keadilan bisa memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kapasitasnya: bukan hanya bisa kumpul massa, tapi juga bisa mengawal kebijakan, memberi masukan, dan mengkritisi jika ada penyimpangan.
Namun, di sinilah jebakan klasik mengintai. Banyak organisasi akhirnya terjebak dalam politik transaksional — kedekatan dengan kekuasaan hanya diukur dari seberapa sering difoto bersama atau seberapa besar akses ke proyek. Kalau Laskar Keadilan jatuh ke lubang itu, maka habislah marwah yang dibangun dari bawah. Organisasi ini akan kehilangan roh gerakan perjuangannya dan hanya jadi pelengkap pesta politik lima tahunan.
Peluang Menjadi Kekuatan Penyeimbang:
Sebaliknya, kalau Laskar Keadilan mampu meneguhkan diri sebagai kekuatan penyeimbang — yang kadang mendukung, kadang mengingatkan — maka mereka bisa jadi mitra kritis yang justru dihormati. Di tengah situasi politik lokal yang kerap pragmatis, hadirnya organisasi yang konsisten memperjuangkan nilai dan aspirasi masyarakat akan jadi oase (sebuah Area yang subur dan hijau di tengah- tengah gurun pasir atau daerah kering)
Kekuatan mereka ada di jaringan: ranting desa, PAC kecamatan, hingga pengurus kabupaten. Kalau jaringan ini benar-benar dihidupkan dengan agenda nyata (misalnya advokasi petani, nelayan, pedagang kecil, atau isu pelayanan publik), maka Laskar Keadilan bisa mengisi ruang kosong yang selama ini jarang disentuh partai politik.
Menawarkan Jalan ke Depan:
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Pertama, jadikan kongres bukan hanya ajang memilih ketua, tapi forum evaluasi dan perencanaan strategis. Kedua, dorong lahirnya kepemimpinan kolektif, bukan figur yang otoriter. Ketiga, tetapkan garis tegas: organisasi boleh dekat dengan kekuasaan, tapi bukan berarti jadi alat kekuasaan. Dan terakhir, fokuskan energi organisasi untuk advokasi isu-isu nyata yang dialami masyarakat sehari-hari.
Kalau empat hal ini dijalankan, saya yakin Laskar Keadilan akan melangkah ke level baru: dari sekadar "organisasi biasa" menjadi "kekuatan sosial-politik yang diperhitungkan".
Kesimpulan:
Kongres ke-2 Laskar Keadilan bukan hanya soal siapa ketua terpilih, tetapi juga soal arah masa depan organisasi. Apakah tetap sibuk dengan ritual formalitas, atau berani melompat menjadi aktor penting dalam babak baru kepemimpinan Parigi Moutong. Jawabannya ada di tangan para kader sendiri.
Kalau mereka mampu merajut soliditas dengan visi yang lebih besar, maka sejarah akan mencatat: Laskar Keadilan bukan sekadar bagian dari keramaian politik lokal, tapi penentu arah perubahan di tanah Parigi Moutong.

