Mengenal lebih Dekat Sosok; Bang Nasir, Ketua Dewan Pembina Organisasi Laskar Keadilan

Berita Laskar Keadilan

Penulis : H A S A N 
(Kader Muda Penggerak Laskar Keadilan) 

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 17 September 2025 - Di sebuah desa kecil bernama Tindaki, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, lahirlah seorang anak pada 5 Januari 1981. Anak itu diberi nama Moh. Nasir Jamal Bandera oleh kedua orang tuanya, Jamal Bandera dan Mas’ani Latjolo. Tidak ada yang menyangka, dari desa yang sederhana itu, kelak tumbuh seorang tokoh yang akan dikenal sebagai Pejuang Gerakan kaderisasi, pendiri organisasi, dan pembina generasi muda yang penuh semangat.

Hidup di desa pada era 1980-an bukan perkara mudah. Infrastruktur pendidikan terbatas, akses informasi tidak semudah hari ini, dan anak-anak desa harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk bisa bersekolah. Namun, justru dari keterbatasan itulah Nasir ditempa. Ia tumbuh dengan karakter tangguh, sederhana, dan tidak mudah menyerah. Orang tuanya mengajarkan arti kerja keras: ayahnya yang tekun, ibunya yang penuh kasih. Dari mereka, ia belajar bahwa hidup harus dijalani dengan kesabaran, kejujuran, dan keteguhan.

Pendidikan: Langkah Kecil Menuju Jalan Panjang

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Wosu di Bungku, Kabupaten Morowali, yang ia tamatkan pada tahun 1994. Anak desa yang haus ilmu ini melanjutkan ke MTs Alkhairaat Wosu Bungku dan lulus pada tahun 1997. Di madrasah itu, ia semakin dekat dengan ilmu agama, menghafal doa-doa, dan belajar makna tanggung jawab moral sebagai seorang muslim.

Tahun 2000, ia menamatkan pendidikan di SMA Negeri 3 Palu. Periode ini menjadi titik balik: ia mulai banyak berinteraksi dengan berbagai organisasi kepemudaan dan kegiatan sosial. Jiwa kepemimpinannya perlahan tumbuh.

Namun, Nasir tahu bahwa bekal pendidikan menengah saja tidak cukup. Ia kemudian merantau jauh ke Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, untuk melanjutkan kuliah S1 di Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA). Lingkungan pesantren modern di sana menempanya menjadi pribadi disiplin, kritis, dan berpikiran terbuka. Ia belajar banyak hal: dari filsafat Islam, pemikiran sosial, hingga kepemimpinan organisasi. Tahun 2004, ia menuntaskan studi sarjana, membawa pulang semangat baru ke tanah kelahirannya.

Belum puas, ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Tahun 2019, ia berhasil meraih gelar S2 di IAIN Datokarama Palu (sekarang UIN Datokarama Palu). Bagi Nasir, ilmu tidak pernah ada batasnya. Pendidikan bukan hanya soal gelar, melainkan tentang bekal moral, intelektual, dan spiritual untuk memperjuangkan umat dan bangsa.

Jejak Organisasi: Dari Mahasiswa Hingga Pemuda

Sejak mahasiswa, Nasir aktif di berbagai organisasi. Ia pernah menjadi kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),  juga aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dari sana, ia belajar bahwa organisasi adalah ruang dialektika. Perbedaan gagasan bukanlah alasan untuk bertikai, tetapi jalan untuk melahirkan ide-ide besar.

Kemudian, ia terlibat aktif di Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), organisasi pemuda Nahdlatul Ulama yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga NKRI dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Pada periode 2017–2019, ia dipercaya sebagai Ketua GP Ansor Kabupaten Parigi Moutong. Masa kepemimpinan ini membawanya ke garda depan dalam mengawal generasi muda agar tetap teguh pada nilai kebangsaan sekaligus berani menghadapi tantangan zaman.

Dalam setiap forum organisasi, Nasir dikenal sebagai sosok yang enak diajak diskusi. Ia tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mendengar. Ia punya kemampuan untuk merangkum gagasan banyak orang lalu menjadikannya satu jalan Gerakan perjuangan. Tidak heran, rekan-rekannya menyebutnya sebagai penggerak yang tak kenal lelah.

Lahirnya Laskar Keadilan: Rumah Baru bagi Kaderisasi

Puncak kiprah Nasir adalah saat ia bersama Teman teman nya saat itu mendirikan organisasi Laskar Keadilan pada tahun 2019. Ia melihat adanya kebutuhan akan organisasi yang tidak sekadar menjadi wadah seremonial, melainkan benar-benar menjadi sekolah kader berjenjang.

Laskar Keadilan lahir dari kegelisahan: banyak pemuda yang potensinya terbuang karena tidak mendapatkan ruang kaderisasi yang sistematis. Dengan semangat itu, Nasir menggagas sebuah organisasi yang fokus pada kegiatan pengkaderan dasar, lanjutan, hingga nasional, bahkan sampai pada pelatihan instruktur.  sebagai Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat (2019–2025), Laskar Keadilan menjelma menjadi rumah besar bagi kader muda di Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah.

Namun, perannya di Laskar Keadilan tidak sekadar struktural. Ia adalah roh gerakan. Ia tidak hanya memberi arahan dari atas, tetapi turun langsung, ikut menemani kader dalam pelatihan, mendampingi diskusi, bahkan hadir di acara-acara kecil di desa-desa. Itulah sebabnya, bagi kader, ia adalah figur misterius: tidak banyak tampil di panggung, tetapi kehadirannya selalu terasa.

Sosok Misterius yang Membumi

Kata “misterius” sering disematkan padanya. Misterius bukan karena ia sulit dipahami, tetapi karena ia jarang menampilkan diri ke publik. Ia lebih suka bekerja dalam diam, membiarkan hasilnya berbicara. Ia bukan tipe pemimpin yang haus tepuk tangan.

Namun, di balik sikap kalem itu, ia dikenal sebagai sosok ramah. Setiap bertemu, ia selalu menyapa, tersenyum, dan membuka ruang obrolan. Ia tidak pernah merendahkan orang lain. Bahkan terhadap lawan politik sekalipun, ia tetap menjaga etika. Inilah yang membuatnya disegani sekaligus disayangi.

Nasir juga seorang Pengkader alami. Ia tidak menggurui, tetapi mengarahkan dengan lembut. Banyak kader muda yang mengaku bahwa mereka bertahan di organisasi karena merasa didengar dan dihargai oleh Nasir.

Keluarga: Sumber Energi yang Sejati

Di balik Gerakan perjuangan panjangnya, Nasir adalah seorang suami dan ayah dari tiga anak. Keluarganya adalah energi utama yang membuatnya tetap kokoh di jalan juang. Ia selalu menekankan bahwa keluarga adalah madrasah pertama.  Jika kaderisasi di organisasi penting, maka kaderisasi di rumah tangga jauh lebih penting.

Refleksi: Arti Perjuangan

Bagi Nasir, perjuangan bukan soal pangkat atau posisi. Ia pernah berkata dalam sebuah forum kecil, “Organisasi itu bukan milik satu orang. Organisasi itu rumah bersama. Kalau kita ingin rumah ini kuat, maka kita harus ikhlas mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran.” Kalimat sederhana itu mencerminkan filosofi hidupnya: ikhlas berjuang tanpa pamrih.

Ia memahami bahwa dunia organisasi sering melelahkan. Konflik internal, dinamika politik, bahkan fitnah kadang datang silih berganti. Namun, Nasir memilih tidak larut dalam perdebatan kosong. Ia lebih suka fokus pada hal-hal nyata: bagaimana kader bisa berkembang, bagaimana masyarakat bisa tercerahkan, dan bagaimana organisasi tetap berdiri tegak.

Sosok yang Terus Hidup dalam Gerakan Perjuangan

Kini, menjelang Kongres II Laskar Keadilan tahun 2025, nama Nasir kembali menjadi sorotan. Meski perannya sebagai Ketua Dewan Pembina periode 2019–2025 segera berakhir, jejaknya akan tetap hidup. Ia adalah fondasi, sekaligus ruh, yang membuat Laskar Keadilan tetap kokoh.

Orang boleh datang dan pergi, jabatan boleh berganti, tetapi nama Moh. Nasir Jamal Bandera akan selalu dikenang sebagai pendiri, pembina, dan penggerak yang mengajarkan bahwa kaderisasi adalah jalan panjang menuju peradaban.

Dari desa kecil Tindaki hingga panggung organisasi, ia telah menempuh perjalanan panjang. Ia adalah bukti nyata bahwa dari kesederhanaan bisa lahir sebuah kekuatan besar. Misterius, ramah, konsisten, dan penuh dedikasi—itulah Moh. Nasir Jamal Bandera, sosok yang mengajarkan kita arti Gerakan Perjuangan sejati.***