Jejak Pengabdian, Jejak Inspirasi: Terima Kasih kepada Ketua Umum Laskar Keadilan Periode 2020–2025

Berita Laskar Keadilan


Penulis : Bang Irsan
(Kader Penggerak Urusan Humas Laskar Keadilan)

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 11 September 2025 - Dalam sejarah perjalanan sebuah organisasi, selalu ada sosok yang mengabdikan diri sepenuh jiwa untuk memastikan roda Gerakan perjuangan tetap berputar. Bagi Laskar Keadilan, periode 2020–2025 adalah masa yang penuh dinamika: pasang surut, ujian, pencapaian, dan harapan yang terus tumbuh. Di tengah arus deras tantangan itu, berdirilah seorang nakhoda yang dengan sabar dan teguh mengemudikan kapal besar bernama Laskar Keadilan.

Hari ini, menjelang Kongres ke II yang akan diselenggarakan pada 11–12 Oktober 2025, kita berhenti sejenak. Kita menoleh ke belakang, menengok jejak pengabdian itu. Dan dari sanalah lahir sebuah bunga rampai ucapan terima kasih: kisah-kisah kecil, kesan mendalam, dan penghormatan yang tulus untuk Ketua Umum yang telah memimpin dengan penuh dedikasi.

1. Dari Benih Kaderisasi ke 114 Angkatan

“Siapa sangka, dari 2020 hingga 2025, kita mampu melahirkan 114 angkatan kaderisasi?” begitu pernah ia bertanya, dengan mata berbinar.

Pertanyaan itu bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa semangat kaderisasi tidak pernah padam. Di masa kepemimpinannya, pengkaderan bukan hanya agenda rutin, tetapi juga menjadi tradisi hidup yang menumbuhkan harapan.

Para kader mengenang bagaimana beliau yang terhormat selalu hadir, memberi semangat, dan menekankan pentingnya kaderisasi sebagai nadi organisasi. “Kaderisasi adalah jantung Laskar Keadilan,” katanya. Ucapan itu terus menggema, bahkan kini menjadi pedoman bagi generasi yang akan datang.

2. Mengemudi di Tengah Badai

Tak bisa dipungkiri, periode ini juga penuh badai. Pandemi global melanda pada awal masa kepemimpinan, membatasi ruang gerak, menghalangi pertemuan fisik, bahkan mengancam keberlangsungan kaderisasi. Namun, ia tidak menyerah.

“Kalau kita tidak bisa bertemu di aula, kita bisa bertemu di ruang maya,” ujarnya saat pertama kali menginisiasi kaderisasi daring. Gagasan itu sempat diragukan, namun akhirnya terbukti: kader tetap lahir, meski dengan format berbeda.

3. Sosok yang Dekat dan Merangkul

Banyak yang mengatakan: “Ketua kita tidak hanya seorang pemimpin, tapi juga seorang sahabat.” Ia selalu menyempatkan waktu untuk mendengar. Entah keluhan kecil tentang kesulitan menjalankan tugas, atau sekadar obrolan ringan tentang mimpi-mimpi kader di masa depan.

“Pemimpin yang baik bukan yang selalu berada di depan, tapi yang tahu kapan harus berjalan di samping dan di belakang,” katanya suatu kali. Itulah sebabnya, banyak kader merasa dekat dengannya, meski jarak geografis memisahkan.

4. Dari Parigi Moutong untuk Indonesia

Laskar Keadilan memang lahir dari Parigi, tetapi di tangannya, organisasi ini belajar menatap lebih luas. Ia mendorong agar kader berani berpikir regional, bahkan nasional.

“Jangan batasi diri kita hanya pada ruang lokal,” tegasnya. “Kita kader Laskar Keadilan, dan kita punya hak serta tanggung jawab untuk memberi warna pada bangsa.”

Dorongan itu membuat banyak kader berani tampil di ruang publik, terlibat dalam diskusi regional Sulawesi Tengah, bahkan menghubungkan jaringan dengan kawan-kawan di tingkat nasional.

5. Konsistensi pada Amanah Kongres

Ketua Umum periode 2020–2025 juga dikenal konsisten menjalankan amanah Kongres. Bagi beliau, peraturan dasar (PD), peraturan rumah tangga (PRT), dan peraturan organisasi (PO) bukanlah sekadar dokumen, melainkan kompas yang harus dijaga.

“Kalau kita abaikan aturan, kita kehilangan arah,” pesannya berulang kali. Konsistensi ini menjadi benteng agar organisasi tetap kokoh, tidak terombang-ambing oleh kepentingan sesaat.

6. Warisan Nilai dan Harapan

Kini, menjelang Kongres ke II, kita menyadari bahwa pengabdian beliau telah meninggalkan warisan penting: nilai-nilai. Nilai tentang keikhlasan, tentang disiplin, tentang keberanian untuk terus melahirkan kader di tengah keterbatasan.

Bagi banyak kader, warisan terbesar yang ia tinggalkan bukanlah angka 114 angkatan kaderisasi, melainkan keyakinan bahwa setiap kader punya potensi untuk menjadi pemimpin.

7. Bunga Rampai Terima Kasih

Dari ujung Desa, kecamatan hingga kabupaten, dari regional Sulawesi Tengah hingga ke jejaring nasional, ucapan terima kasih bergema.

* Seorang kader muda menulis: Terima kasih telah percaya bahwa kami, kader baru, punya masa depan. Tanpa kepercayaanmu, kami mungkin tak berani melangkah.

* Seorang pengurus cabang menuturkan: "Ketekunanmu menjaga aturan organisasi mengajarkan kami arti kedisiplinan. Terima kasih, Ketua".

* Seorang sahabat seperjuangan berucap: Engkau mengajarkan kami bahwa persaudaraan lebih penting dari sekadar jabatan. Itulah yang akan selalu kami kenang.

Semua ucapan itu ibarat bunga rampai: berbeda warna, berbeda aroma, tetapi satu dalam keindahan.

8. Menatap Masa Depan dengan Optimisme

Kongres II akan memilih Ketua Umum baru. Akan ada regenerasi, akan ada wajah baru, dan akan ada tantangan baru. Namun, optimisme tumbuh karena fondasi yang telah ditanamkan.

Ketua Umum periode 2020–2025 telah membuktikan bahwa organisasi bisa bertahan bahkan di tengah badai. Ia telah menunjukkan bahwa kaderisasi tetap bisa hidup, meski dalam keterbatasan. Dan yang terpenting, ia telah memberi teladan bahwa kepemimpinan adalah soal pengabdian, bukan sekadar posisi.

Penutup: Terima Kasih, Ketua Kami

Di penghujung masa bakti ini, izinkanlah kami, segenap kader Laskar Keadilan, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Terima kasih atas 5 tahun yang penuh peluh dan doa. Terima kasih atas keberanian, kesabaran, dan keikhlasan.

Engkau telah meninggalkan jejak yang tidak akan hilang, jejak yang akan terus menuntun langkah kami.

Dan pada akhirnya, setiap generasi akan melahirkan pemimpin baru. Tetapi, sejarah akan selalu mencatat: pada periode 2020–2025, ada seorang Ketua Umum yang memimpin dengan hati, merangkul dengan tangan, dan menyalakan api perjuangan dengan jiwa.

Terima kasih, Ketua. Jejakmu adalah inspirasi kami.