Merajut Soliditas Laskar Keadilan di Babak Baru Kepemimpinan Parigi Moutong

Penulis : Murod Ahmed (Pengamat/ Pemerhati Laskar Keadilan) 

Editor : Sigit

Kalau kita bicara soal organisasi baik Organisasi Kekaderan maupun Organisasi massa, apalagi yang punya basis hingga desa dan kecamatan, rasanya sulit untuk tidak menyinggung soal dinamika internal dan hubungannya dengan kekuasaan lokal. Laskar Keadilan yang sebentar lagi akan menggelar Kongres ke-2 di Parigi Moutong, pada tanggal 11-12 Oktober 2025, adalah contoh nyata betapa organisasi bukan sekadar kumpulan orang, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan, kepentingan, dan bahkan pertarungan pengaruh.

Kongres kali ini jelas berbeda atmosfernya. Sebab, kita tahu persis Parigi Moutong baru saja punya bupati dan wakil bupati baru. Pergantian kepemimpinan daerah ini otomatis menciptakan babak baru relasi antara kekuatan sosial-politik di tingkat akar rumput dengan pusat kekuasaan. Laskar Keadilan, dengan jaringan yang merata sampai ranting desa, punya posisi strategis untuk menentukan apakah mereka sekadar jadi penonton, atau benar-benar ikut jadi pemain yang mewarnai arah pembangunan daerah.

Tantangan Internal: Soliditas atau Sekadar Formalitas: 

Setiap kali ada kongres, biasanya yang paling ramai dibicarakan adalah siapa yang jadi ketua. Itu lumrah, karena kursi kepemimpinan identik dengan akses, kuasa, dan arah organisasi. Tapi mari kita jujur: terlalu sering energi habis hanya untuk rebutan posisi, bukan merancang strategi. Jika ini yang terulang di Kongres ke-2 nanti, maka jangan harap Laskar Keadilan bisa naik kelas menjadi organisasi yang diperhitungkan.

Soliditas internal adalah harga mati. Tapi soliditas itu bukan berarti semua harus seragam atau anti kritik. Justru sebaliknya, organisasi akan kuat kalau ada ruang dialektika, ada mekanisme kritik membangun, dan ada kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan. Pertanyaannya: apakah para kader Laskar Keadilan siap menggeser orientasi kongres dari "rebutan kursi" menuju "adu gagasan"?

Hubungan dengan Kepemimpinan Daerah Baru

Konteks Parigi Moutong sekarang menarik. Bupati dan wakil bupati baru butuh mitra sosial yang kuat untuk menopang legitimasi sekaligus menyalurkan aspirasi warga. Di sisi lain, organisasi seperti Laskar Keadilan bisa memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kapasitasnya: bukan hanya bisa kumpul massa, tapi juga bisa mengawal kebijakan, memberi masukan, dan mengkritisi jika ada penyimpangan.

Namun, di sinilah jebakan klasik mengintai. Banyak organisasi akhirnya terjebak dalam politik transaksional — kedekatan dengan kekuasaan hanya diukur dari seberapa sering difoto bersama atau seberapa besar akses ke proyek. Kalau Laskar Keadilan jatuh ke lubang itu, maka habislah marwah yang dibangun dari bawah. Organisasi ini akan kehilangan roh gerakan perjuangannya dan hanya jadi pelengkap pesta politik lima tahunan.

Peluang Menjadi Kekuatan Penyeimbang: 

Sebaliknya, kalau Laskar Keadilan mampu meneguhkan diri sebagai kekuatan penyeimbang — yang kadang mendukung, kadang mengingatkan — maka mereka bisa jadi mitra kritis yang justru dihormati. Di tengah situasi politik lokal yang kerap pragmatis, hadirnya organisasi yang konsisten memperjuangkan nilai dan aspirasi masyarakat akan jadi oase (sebuah Area yang subur dan hijau di tengah- tengah gurun pasir atau daerah kering) 

Kekuatan mereka ada di jaringan: ranting desa, PAC kecamatan, hingga pengurus kabupaten. Kalau jaringan ini benar-benar dihidupkan dengan agenda nyata (misalnya advokasi petani, nelayan, pedagang kecil, atau isu pelayanan publik), maka Laskar Keadilan bisa mengisi ruang kosong yang selama ini jarang disentuh partai politik.

Menawarkan Jalan ke Depan: 

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Pertama, jadikan kongres bukan hanya ajang memilih ketua, tapi forum evaluasi dan perencanaan strategis. Kedua, dorong lahirnya kepemimpinan kolektif, bukan figur yang otoriter. Ketiga, tetapkan garis tegas: organisasi boleh dekat dengan kekuasaan, tapi bukan berarti jadi alat kekuasaan. Dan terakhir, fokuskan energi organisasi untuk advokasi isu-isu nyata yang dialami masyarakat sehari-hari.

Kalau empat hal ini dijalankan, saya yakin Laskar Keadilan akan melangkah ke level baru: dari sekadar "organisasi biasa" menjadi "kekuatan sosial-politik yang diperhitungkan".

Kesimpulan: 

Kongres ke-2 Laskar Keadilan bukan hanya soal siapa ketua terpilih, tetapi juga soal arah masa depan organisasi. Apakah tetap sibuk dengan ritual formalitas, atau berani melompat menjadi aktor penting dalam babak baru kepemimpinan Parigi Moutong. Jawabannya ada di tangan para kader sendiri.

Kalau mereka mampu merajut soliditas dengan visi yang lebih besar, maka sejarah akan mencatat: Laskar Keadilan bukan sekadar bagian dari keramaian politik lokal, tapi penentu arah perubahan di tanah Parigi Moutong.

Kongres ke -2 Laskar Keadilan dan Parigi Moutong: Menyatukan Soliditas di Tengah Pergantian Kepemimpinan


Oleh: H A T M A

(Pemerhati Laskar Keadilan) 


Kabupaten Parigi Moutong sedang melangkah ke babak baru yang penuh harapan sekaligus tantangan. Dengan kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati yang baru resmi menjabat, serta Kapolres baru yang mulai menancapkan pengaruhnya, dinamika sosial-politik dan keamanan di daerah ini menjadi semakin kompleks. 

Di tengah perubahan tersebut, Laskar Keadilan bersiap menyelenggarakan Kongres ke-2 Tanggal 11-12 Oktober 2025, sebagai momentum penting. Organisasi masyarakat yang selama ini dikenal sebagai garda moral dan sosial di Parigi Moutong ini menghadapi ujian besar: apakah solidaritas internalnya mampu bertahan dan justru menguat, ataukah gesekan kepentingan akan membuatnya terpecah dan kehilangan arah? Opini ini mencoba menyelami realitas tersebut dengan pendekatan naratif, kritis, dan solutif, memandang jauh melampaui sekadar konflik internal untuk menggali arah masa depan Laskar Keadilan dan bagaimana ia bisa menjadi penopang kuat bagi pembangunan daerah.

Perubahan kepemimpinan daerah, dalam konteks Parigi Moutong, membawa nuansa harapan sekaligus ketidakpastian. Euforia awal pasca pelantikan Bupati dan Wakil Bupati memang terasa, tapi publik dengan cermat menunggu bukti konkret, bukan janji semu. Program yang telah digulirkan masih dalam tahap awal, dan masyarakat yang terdiri dari 278 desa, 5 Kelurahan / 23 Kecamatan menanti perubahan yang benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari mereka. 

Di saat yang bersamaan, masuknya Kapolres baru menghadirkan warna segar sekaligus tantangan baru dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban. Polres sebagai ujung tombak negara di daerah ini harus mampu menavigasi antara penegakan hukum yang tegas dan pendekatan yang humanis berbasis dialog dengan tokoh masyarakat dan kelompok-kelompok sipil termasuk Laskar Keadilan yang punya pengaruh kuat di akar rumput.

Namun, problem yang mendasar terlihat jelas dari fragmentasi internal organisasi seperti Laskar Keadilan. Organisasi ini, yang sesungguhnya memiliki potensi besar sebagai penggerak solidaritas di tingkat desa dan kecamatan, menghadapi godaan kepentingan "politik internal" dan personal yang berpotensi merusak integritasnya.

Kongres ke-2 yang akan digelar pada Minggu kedua Oktober 2025 nanti, semestinya menjadi ajang konsolidasi, menjadi titik balik yang menguatkan orientasi bersama, tetapi di sisi lain, riak-riak pertikaian kepentingan bisa saja menggerogoti citra dan kekuatannya.

Organisasi masyarakat harus berani menghindari jebakan kepentingan sesaat yang hanya memecah belah, bukan membangun. Di sinilah pentingnya kesadaran ideologis dan teknis para pengurus dan kader agar bisa menempatkan kepentingan masyarakat di atas segalanya, bukan sekadar ambisi kekuasaan.

Selain itu, hubungan antara Laskar Keadilan dan pemerintah daerah masih jauh dari ideal. Ketidakseimbangan interaksi ini, di mana organisasi masyarakat cenderung hanya menjadi “penonton” dalam proses pembangunan atau bahkan dijadikan alat legitimasi, membuka ruang bagi ketidakpercayaan dan friksi yang berujung pada konflik horizontal. Organisasi yang mestinya menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjembatani kepentingan masyarakat justru sering merasa tersisih.

Implikasi dari pola hubungan yang timpang ini tidak hanya mengancam koherensi sosial di tingkat lokal, tapi juga melemahkan kualitas demokrasi partisipatif yang sejatinya harus hidup subur di daerah berkembang seperti Parigi Moutong. 

Tanpa ritme yang sehat antara pemerintah dan masyarakat sipil, sulit membayangkan tercipta stabilitas yang kokoh dan pembangunan yang berkelanjutan.

Perasaan skeptis publik terhadap kinerja pemerintah daerah baru juga cukup nyata. Survei yang dilakukan oleh beberapa LSM lokal memperlihatkan tingkat kepuasan masyarakat hanya sekitar 55 persen.

Angka tersebut memang belum menunjukkan krisis, tapi jelas mengindikasikan bahwa masyarakat menuntut lebih dari sekadar janji dan seremoni. Publik menginginkan bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan dasarnya, mulai dari pengamanan hasil bumi yang sering menjadi sasaran pencurian di siang dan malam hari, hingga pelayanan dasar yang mendukung kesejahteraan masyarakat luas.

Kondisi keamanan yang rawan dengan modus kejahatan khas daerah agraris ini adalah tantangan besar bagi Kapolres baru. Pendekatan represif semata tidak cukup; diperlukan strategi komprehensif yang berangkat dari dialog intensif dengan pemangku kepentingan setempat untuk membangun rasa aman yang sejati dan berkelanjutan.Dampak dari lemahnya konsolidasi internal dan hubungan antar lembaga ini sangat berbahaya bagi masa depan Parigi Moutong. 

Laskar Keadilan bisa saja kehilangan daya tawarnya sebagai organisasi massa yang menjadi motor solidaritas sosial. Saat masyarakat mulai meragukan komitmen dan konsistensi organisasi, apatisme sosial berisiko merebak, membuat semangat gotong royong dan partisipasi warganya memudar.

Ditambah lagi, ketidakstabilan sosial-politik akibat kepemimpinan yang belum kuat dan hubungan yang kurang harmonis antara berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan bisa memicu konflik yang tidak hanya sekadar gesekan politik biasa, tetapi bahkan bisa meluas menjadi benturan horizontal yang merugikan seluruh lapisan masyarakat.

Lebih jauh lagi, generasi muda sebagai tulang punggung Laskar Keadilan berpotensi menjadi korban utama dari situasi ini. Bila organisasi hanya dijalankan oleh orang - orang lama yang bersifat skeptis tanpa memberikan ruang yang cukup bagi kader muda untuk berkembang, maka mereka akan kehilangan motivasi, bahkan berbalik menjadi pengikut pasif atau meninggalkan arena gerak perjuangan. Padahal, mereka adalah generasi yang diharapkan menjadi penjaga idealisme dan pembawa perubahan baru yang segar dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Ketidakhadiran mereka dalam pengambilan peran aktif ini secara nyata akan melemahkan keberlanjutan dan regenerasi kepemimpinan di organisasi maupun di masyarakat luas.

Melihat kompleksitas permasalahan tersebut, solusi utama yang wajib ditempuh adalah konsolidasi secara ideologis dan struktural di dalam Organisasi Laskar Keadilan. 

Kongres ke-2 yang akan digelar hendaknya dijadikan momentum bukan hanya sebagai seremoni pemilihan pengurus baru, tetapi sebagai forum pembaruan visi dan misi organisasi secara keseluruhan. Forum tersebut bisa menetapkan garis-garis merah yang menjadi pondasi moral dan etika bagi seluruh kader agar menjaga independensi organisasi sekaligus memformulasikan strategi kolaborasi yang konstruktif dengan pemerintah daerah demi kepentingan masyarakat. Ini bukan perkara mudah, karena menembus kepentingan sesaat memerlukan keberanian dan komitmen yang kuat dari seluruh elemen internal organisasi.

Di samping konsolidasi internal, dialog konstruktif dengan Kapolres baru harus menjadi agenda penting. Pendekatan saling mendengarkan dan bersama-sama merumuskan solusi nyata untuk masalah keamanan akan membuka ruang kerja sama yang selama ini kurang optimal. 

Laskar Keadilan sebagai organisasi masyarakat bisa turut menawarkan program-program berbasis komunitas, seperti peningkatan pendidikan hukum bagi pemuda desa, pembentukan forum mediasi konflik berbasis adat dan lokalitas, serta pengawasan bersama terhadap keamanan wilayah. Ini menjadikan hubungan antara organisasi masyarakat dan aparat keamanan bukan sekadar hubungan vertikal, tetapi kemitraan setara dalam menjaga kondusivitas daerah.

Usaha pembaharuan juga harus memberi perhatian khusus kepada kader muda. Melalui program pelatihan, kaderisasi yang sistematis, dan pemberian ruang partisipasi nyata, generasi muda dapat didorong menjadi penggerak utama yang membawa gairah dan inovasi ke dalam organisasi. Mereka bukan hanya pelengkap, melainkan motor penggerak yang menghubungkan idealisme Laskar Keadilan dengan kebutuhan riil masyarakat di era kepemimpinan baru.

Kesadaran dan peran aktif mereka menjadi kunci agar organisasi ini tidak kehilangan arah dan mampu beradaptasi dengan dinamika sosial-politik yang terus berubah.Pada akhirnya, soliditas Laskar Keadilan di babak baru kepemimpinan daerah dan Kapolres baru bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi pengurus nanti nya. Lebih dari itu adalah soal bagaimana organisasi ini mampu mengukuhkan arah gerak perjuangan bersama yang jelas, konsisten, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan sosial-politik Parigi Moutong. Di tengah desingan isu dan kepentingan yang saling tarik-menarik, masyarakat menuntut konsistensi dan keberanian organisasi tetap menjaga independensi sekaligus merangkul semua pihak demi kepentingan bersama yang lebih besar.

Keyakinan pada potensi Parigi Moutong sebagai contoh harmonisasi antara organisasi masyarakat dan pemerintah daerah bukanlah hal yang mustahil. Namun, pencapaian itu hanya akan terwujud jika semua elemen bersedia meninggalkan pola lama kepentingan jangka pendek yang cenderung merusak, dan mulai menempatkan kepentingan masyarakat di atas segala-galanya.

Momentum Kongres ke-2 Laskar Keadilan harus dijadikan titik balik untuk memperkuat soliditas internal, membangun kemitraan strategis dengan pemerintah dan aparat keamanan, dan menyuntikkan energi baru melalui peran aktif generasi muda. Dengan cara ini, harapan akan keberlanjutan pembangunan yang responsif, keamanan yang berbasis dialog, dan masyarakat yang solid secara sosial-politik dapat menjadi kenyataan yang membawa Parigi Moutong ke arah yang lebih baik.

Apakah Laskar Keadilan akan mampu menjawab tantangan zaman dan menunjukkan bahwa solidaritas bukan sekadar retorika? Jawabannya banyak bergantung pada kebijakan dan tindakan nyata yang diambil hari ini—bagaimana para kader dari ranting hingga pengurus pusat mampu menjaga idealisme, mengelola konflik internal secara dewasa, dan memperkuat sinergi dengan pemangku kepentingan lainnya.

Ini adalah ujian besar sekaligus peluang berharga untuk membuktikan bahwa kekuatan moral dan sosial organisasi bisa menjadi penopang utama dalam menghadapi perubahan kepemimpinan daerah yang dinamis dan menuntut keteguhan.

Parigi Moutong membutuhkan Laskar Keadilan yang bukan hanya solid dalam kata, tetapi kuat dalam perbuatan. Dengan langkah itu, babak baru yang tengah berjalan bukan hanya akan menjadi cerita pergantian kekuasaan semata, tetapi juga kisah inspiratif tentang kebersamaan, kemajuan, dan keadilan sosial yang nyata.***

"Kongres ke-2 Laskar Keadilan: Menyatukan Visi dalam Pilihan Ketum Periode 2025-2030"

Berita Laskar Keadilan

Penulis : Hasan (Kader Penggerak Laskar Keadilan)

Editor : Sigit


Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 28 September 2025 - Kongres ke-2 Laskar Keadilan yang akan dilaksanakan pada tanggal 11-12 Oktober 2025 menjadi momentum krusial bagi organisasi ini dalam menentukan arah kepemimpinan dan strategi kebijakan lima tahun ke depan. Menjelang ajang akbar tersebut, antusiasme kader anggota dan simpatisan Laskar Keadilan semakin meningkat seiring dengan munculnya tiga calon ketua yang telah mendaftar sebagai kandidat resmi periode 2025-2030. Ketiga tokoh tersebut, yaitu Ayun, Muzakir alias Bang Jeck, dan Irsan Alias Bang Kadus, masing-masing membawa visi dan rekam jejak yang berbeda, yang akan sangat menentukan warna kepemimpinan Laskar Keadilan di masa depan.

Ayun, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Laskar Keadilan Provinsi Sulawesi Tengah, dikenal sebagai sosok yang energik dan berpengalaman dalam mengelola organisasi tingkat wilayah. Kepemimpinannya selama ini menunjukkan kemampuannya dalam menjaga soliditas kader anggota lewat pendekatan inklusif dan membangun jaringan yang kuat dengan berbagai elemen masyarakat. Ayun berhasil mendorong berbagai program sosial dan kegiatan yang tidak hanya melibatkan kader anggota internal, tetapi juga masyarakat luas yang selama ini menjadi objek perhatian Laskar Keadilan. Ketajaman visi Ayun untuk memperkuat basis organisasi dari tingkat akar rumput hingga pusat menjadi salah satu nilai plus yang diperhitungkan besar oleh kader dan pengurus organisasi.

Sementara itu, Muzakir alias Bang Jeck membawa latar belakang sebagai Komandan Satuan Pusat Barisan Laskar Keadilan Khusus, yang berarti ia memiliki pengalaman eksekutif dan strategis dalam aspek keamanan dan pertahanan organisasi. Sosok Bang Jeck kerap dianggap sebagai pembawa semangat militansi dan kedisiplinan tinggi dalam setiap aktivitas yang digelarnya. Kepemimpinannya selama ini sangat kental dengan pendekatan tegas dan sistematis, yang mampu menjaga ketertiban internal sekaligus memberikan rasa aman bagi kader anggota Laskar Keadilan. Dalam konteks perubahan zaman dan tantangan baru yang semakin kompleks, pendekatan Bang Jeck mempunyai relevansi penting untuk meningkatkan ketahanan organisasi menghadapi berbagai potensi gangguan eksternal maupun internal.

Di lain pihak, Irsan, yang menjabat sebagai Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Pimpinan Pusat Laskar Keadilan, menawarkan perspektif yang lebih strategis dan komunikatif dalam memimpin organisasi. Dengan pengalaman bertahun-tahun di bidang kehumasan dan komunikasi, Irsan mampu membangun citra positif Laskar Keadilan di mata publik dan media, sekaligus mempererat hubungan dengan berbagai pihak eksternal mulai dari pemerintah hingga organisasi masyarakat sipil lainnya. Keahliannya dalam mengelola komunikasi strategis dipandang sebagai modal penting untuk menghadapi dinamika politik dan sosial yang terus berkembang. Kepemimpinan Irsan pada periode mendatang diprediksi akan memperkuat fungsi advokasi dan diplomasi organisasi.

Ketiga calon ketua ini dengan jelas mencerminkan keragaman pendekatan dan visi dalam memimpin Laskar Keadilan. Hal tersebut mencerminkan sebuah dinamika demokrasi sehat di lingkungan organisasi yang justru harus diapresiasi sebagai tanda kematangan dan kesiapan menghadapi masa depan. Seiring dengan jalannya proses pemilihan, perhatian publik terutama kader anggota Laskar Keadilan dan "Pemilik Suara pemilihan" tentu tertuju pada kemampuan para kandidat untuk mengartikulasikan visi mereka secara jelas dan meyakinkan, serta kemampuan mereka menghadirkan kerjasama antar lini demi kemajuan bersama.

Kongres ke-2 ini bukan sekadar seremoni pergantian pengurus, melainkan juga menjadi panggung evaluasi terhadap kinerja kepemimpinan periode sebelumnya serta perumusan strategi organisasi untuk mengantisipasi perubahan-perubahan sosial dan politik yang akan datang. Isu-isu strategis seperti peningkatan kesejahteraan kader anggota, perluasan jangkauan pengaruh, dan penguatan identitas organisasi menjadi tema-tema sentral yang harus mampu dijawab dengan solusi konkret oleh kepemimpinan baru.

Selain itu, tantangan eksternal seperti ketatnya persaingan antar organisasi sosial-politik di Indonesia, perubahan regulasi pemerintah tentang organisasi kemasyarakatan, serta dinamika masyarakat yang semakin kritis dan dinamis juga menuntut Laskar Keadilan untuk tidak hanya bergerak adaptif, tapi juga proaktif dalam menginisiasi perubahan yang positif. Kerja sama yang solid antara pengurus pusat ke pimpinan wilayah, Cabang, anak cabang dan ranting/ Kader menjadi keharusan untuk memastikan setiap program berjalan optimal dan berdampak nyata.

Tidak kalah penting adalah aspek regenerasi kader, yang harus dijadikan prioritas utama dalam agenda kepemimpinan periode 2025-2030. Dengan memasukkan kader-kader muda yang memiliki semangat inovasi dan keterbukaan terhadap kemajuan teknologi, Laskar Keadilan dapat menyiapkan fondasi yang kuat agar tetap relevan dan berdampak luas dalam jangka panjang. Para calon ketua harus mampu menjadikan pengkaderan ini sebagai program unggulan yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai luhur organisasi.

Dari perspektif demokrasi internal, proses pemilihan ketua harus berlangsung secara transparan dan adil, sehingga hasil akhirnya mendapat legitimasi penuh dari seluruh kader anggota maupun pengurus di wilayah, Cabang, Anak Cabang maupun ranting. Proses kampanye kandidat yang sehat dengan fokus pada program dan visi jauh lebih bermanfaat dibandingkan politik adu identitas atau kepentingan sesaat. Ini menjadi modal penting agar Laskar Keadilan mampu tampil sebagai organisasi yang berintegritas, berdaya saing, dan mampu menginspirasi perubahan sosial yang konstruktif.

Saat ini, kondisi kesiapan Laskar Keadilan menuju kongres kedua menunjukkan gambaran organisasi yang dinamis dan penuh harapan. Ketiga calon ketua yang maju dengan latar belakang berbeda-beda memberikan alternatif pilihan leadership yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan aspirasi kader anggota. Oleh karena itu, kongres ini harus dimaknai sebagai momen pembaharuan yang tidak hanya mengutamakan pergantian pemimpin, tetapi juga sebagai ruang diskusi terbuka tentang bagaimana Laskar Keadilan dapat berkontribusi lebih besar dalam pembangunan sosial-politik di Indonesia.

Kongres ke-2 Laskar Keadilan adalah kesempatan emas untuk memastikan bahwa organisasi ini mampu menginternalisasi nilai-nilai luhur bangsa, demokrasi, dan kemanusiaan ke dalam setiap langkah gerak perjuangannya. Para calon ketua yang bertarung harus mampu menjadi simbol transformasi sekaligus penjaga tradisi yang memperkuat karakter organisasi tanpa mengesampingkan kebutuhan akan inovasi dan pembaruan. Dengan demikian, kepemimpinan yang terpilih nanti akan dipersiapkan tidak hanya untuk menghadapi tantangan masa depan, tetapi juga mengukir sejarah baru yang membanggakan bagi seluruh kader  anggota Laskar Keadilan dan masyarakat luas.

Secara keseluruhan, harapan besar tertuju pada kongres ini agar dapat melahirkan ketua yang tidak hanya pandai dalam berdemokrasi dan memimpin, tetapi juga mampu menggerakkan setiap potensi kader anggota untuk menjadi agen perubahan sosial yang berintegritas. Tantangan zaman memang tidak ringan, tetapi dengan kepemimpinan yang tepat, Laskar Keadilan bisa menjadi kekuatan strategis yang mewujudkan masyarakat lebih adil, makmur, dan berkeadaban. Kongres ke-2 ini menjadi babak baru yang menguji komitmen dan kemampuan organisasi untuk terus maju seiring dengan tuntutan zaman dan harapan masyarakat.***

"Meneguhkan Nilai Luhur Bangsa dari Parigi Moutong: Harapan Besar Kongres ke-2 Laskar Keadilan"

Berita Laskar Keadilan

Penulis : Kamila  (Simpatisan Laskar Keadilan)

Editor : Sigit


Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 27 September 2025 - Kongres ke-2 Laskar Keadilan yang dijadwalkan pada tanggal 11 hingga 12 Oktober 2025 di Kabupaten Parigi Moutong bukan sekadar perhelatan organisasi rutin, melainkan sebuah momentum penting yang mencerminkan perjalanan panjang sekaligus pencapaian mantap dari sebuah organisasi yang masih relatif muda namun penuh semangat. Laskar Keadilan lahir pada tanggal 27 Desember 2019 sebagai wujud nyata keinginan untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur bangsa dan martabat para pendiri bangsa yang sarat makna. Dalam lima tahun perjalanan hingga 2025, Laskar Keadilan tidak hanya menjadi organisasi kekaderan biasa yang berkutat sebatas rutinitas administratif, melainkan telah tampil sebagai institusi pembinaan kader yang konsisten dan sistematis. Kongres kedua ini akan menjadi titik tolak bagi organisasi untuk merefleksikan capaian yang telah diperoleh sekaligus menyusun langkah-langkah strategis dalam menghadapi tantangan ke depan demi mempertahankan relevansi dan keberdayaan di kancah sosial dan politik yang semakin dinamis.

Sejak berdirinya, Laskar Keadilan sangat menaruh perhatian besar pada pengembangan kualitas sumber daya manusianya melalui program pengkaderan yang sistematis dan berjenjang. Nilai-nilai luhur bangsa menjadi landasan utama dalam setiap kegiatan yang dijalankan. Sebagaimana dicatat, selama periode 2020 hingga 2025, program pengkaderan dasar telah diselenggarakan sebanyak 114 kali. Angka ini tidak sekadar menunjukkan kuantitas kegiatan, melainkan menjadi bukti komitmen organisasi dalam membentuk karakter dan kapasitas kader secara berkelanjutan. Pengkaderan dasar yang berulang kali dilaksanakan adalah wujud penguatan fondasi ideologi dalam diri setiap anggota agar memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai keadilan, martabat kemanusiaan, serta integritas tinggi sebagai bekal dalam mengemban tugas dan tanggung jawab sosial. Menyerap dan menginternalisasi nilai-nilai luhur bangsa bukanlah proses yang mudah dan instan; oleh karena itu, keberhasilan pengkaderan ini merupakan pencapaian yang sangat berharga dan menjadi kekuatan signifikan bagi Laskar Keadilan untuk terus maju.

Selain pengkaderan dasar yang massif, Laskar Keadilan juga telah melaksanakan pengkaderan lanjutan sebanyak satu kali dan pengkaderan instruktur sebanyak satu kali selama lima tahun terakhir. Meskipun jumlahnya masih terbatas, program-program ini memainkan peran krusial dalam membentuk struktur kepemimpinan dan kemampuan teknis para kader. Pengkaderan lanjutan menjadi fase penting dalam memperdalam wawasan, memperluas jaringan, serta memperkuat komitmen ideologis kader yang telah melewati jenjang dasar. Begitu pula dengan pengkaderan instruktur yang mempersiapkan individu-individu berkualitas sebagai penggerak utama pelatihan dan pendidikan kader selanjutnya. Dengan adanya pendidik atau instruktur kader yang kompeten dan berintegritas, maka kesinambungan dan kelangsungan kaderisasi dalam organisasi akan terjamin. Hal ini mengindikasikan bahwa Laskar Keadilan tidak hanya fokus pada kuantitas kader, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan yang akan menopang organisasi di masa mendatang.

Kongres ke-2 yang akan dilaksanakan tidak hanya menjadi forum evaluasi dan perbaikan, melainkan juga wadah strategis untuk peneguhan nilai-nilai organisasi secara kolektif. Di sini, seluruh elemen anggota dan pengurus akan menyalurkan aspirasi, mengajukan gagasan-gagasan inovatif, dan mengokohkan visi bersama yang akan menjadi pijakan untuk lima tahun berikutnya. Penyatuan pandangan dan keselarasan tujuan dalam kongres sangat penting, mengingat perjalanan organisasi yang mampu melewati masa-masa sulit sejak 2019 hingga kini tidak terlepas dari kerja keras dan solidaritas anggota. Kongres menjadi momen di mana spirit kebersamaan dan rasa memiliki terhadap Laskar Keadilan dihidupkan kembali sehingga tidak hanya menjadi wadah formalitas belaka, melainkan menjadi penggerak nyata dalam melanjutkan perjuangan demi keadilan sosial serta memperkuat martabat bangsa. Rangkaian kegiatan pengkaderan yang intens dan berjenjang selama ini menjadi modal utama yang mampu menjadikan kongres sebagai titik tolak pencapaian kematangan organisasi yang lebih berwibawa.

Makna kongres dalam konteks Laskar Keadilan juga dapat dipahami sebagai ekspresi demokrasi internal dan proses reflektif yang mendalam. Dalam waktu yang relatif singkat, organisasi ini telah berhasil membangun kultur kekaderan yang tidak mudah ditemui pada organisasi lainnya. Melalui proses pengkaderan berjenjang, Laskar Keadilan menjadikan tiap kader sebagai agen perubahan yang sadar akan tanggung jawab sejarahnya. Hakikat kongres tidak semata-mata tentang pergantian kepemimpinan, tetapi bagaimana organisasi mampu mengekspresikan kebijaksanaan kolektif dalam menentukan arah perjuangan selanjutnya. Diskusi kritis, debat pemikiran, dan musyawarah mufakat menjadi bagian fundamental dari dinamika kongres yang sehat. Hal ini tentu menuntut setiap peserta kongres untuk tidak hanya berpikir pragmatis, melainkan juga merawat nilai-nilai luhur kejujuran, keadilan, serta keberanian dalam mengambil keputusan demi kebaikan bersama.

Sejalan dengan itu, kongres ini harus menjadi momentum pembaharuan yang melibatkan inovasi dalam metode organisasi dan pendekatan pengkaderan. Meskipun telah banyak melakukan pengkaderan dasar, pengkaderan lanjutan, dan pengkaderan instruktur dengan kira-kira 114 kali kegiatan dan pelatihan, tantangan kedepan menuntut Laskar Keadilan untuk lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Pengkaderan nasional yang selama ini menjadi impian harus dirancang dengan lebih sistematis dan menyasar aspek kapasitas intelektual, politis, dan sosial setiap kader agar siap menghadapi gejolak sosial yang cepat berubah. Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat membuka peluang sekaligus tantangan baru bagi proses kaderisasi. Oleh karena itu, kongres saat ini memiliki peluang strategis untuk merumuskan langkah-langkah inovatif yang mengintegrasikan teknologi informasi sebagai media pengkaderan yang efektif dan efisien, memperluas jaringan koneksi, serta memperkuat branding organisasi di masyarakat luas.

Melihat nilai sejarah dan moralitas yang dimiliki, kongres akan memperkuat pijakan Laskar Keadilan dalam merawat sekaligus melanjutkan nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi fondasi dari organisasi ini. Organisasi seperti Laskar Keadilan terikat oleh tanggung jawab moral dan sosial yang besar untuk menjawab berbagai permasalahan kemasyarakatan dengan kepekaan tinggi. Dalam hal ini, kongres menjadi ajang untuk menguatkan dimensi moral dan spiritual kader yang menjadi penyemangat perjuangan agar tetap bernilai dan tidak terjebak dalam praktik pragmatis. Melalui penguatan nilai-nilai seperti keadilan sosial, integritas, martabat, dan kejujuran, kongres akan menyatukan pandangan agar organisasi tidak terpecah oleh kepentingan kelompok atau ego individual. Maka dari itu, pelaksanaan kongres harus membawa aspirasi nilai-nilai luhur bangsa ke dalam setiap keputusan dan program kerja yang dirumuskan, supaya organisasi tetap relevan dan menjadi mercusuar dalam perjuangan sosial di Indonesia.

Selain aspek internal organisasi, Kongres ke-2 ini juga punya peran strategis dalam memperluas jaringan dan kolaborasi dengan berbagai elemen di luar Laskar Keadilan. Keterbukaan terhadap dialog dengan organisasi masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya harus menjadi bagian penting dari strategi yang disepakati dalam kongres. Melalui kemitraan strategis tersebut, Laskar Keadilan dapat memperkuat posisinya sebagai organisasi yang bukan hanya sibuk dengan kaderisasi internal, tetapi juga mampu bersinergi dengan berbagai pihak dalam menegakkan keadilan sosial di berbagai lapisan masyarakat. Dengan demikian, hasil kongres tidak hanya berdampak pada penguatan internal saja melainkan juga berkorelasi positif pada kemajuan masyarakat luas yang selama ini menjadi fokus perjuangan organisasi.

Seiring dengan meningkatnya peran organisasi di masyarakat, kongres akan menjadi ajang refleksi penting untuk mengkaji kembali efektivitas program pengkaderan yang telah dilakukan. Pengkaderan dasar yang sudah mencapai 114 kali menunjukkan intensitas yang luar biasa, namun momen ini menuntut evaluasi mendalam terhadap kualitas dan dampak skeptisnya. Pertanyaan penting yang harus dijawab bersama dalam kongres adalah sejauh mana kader yang dihasilkan telah mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan ke dalam tindakan nyata di lapangan. Apakah mereka sudah mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat dan menjadi motor penggerak perubahan di lingkungan masing-masing? Dengan kata lain, konten dan tata kelola pengkaderan harus terus diperbaiki dan disesuaikan agar manfaatnya dapat dinikmati secara nyata oleh masyarakat. Kongres adalah saat yang tepat untuk menentukan formula terbaik dalam pengembangan kapasitas kader yang holistik dan berkeadilan.

Secara lebih luas, pelaksanaan kongres juga bermakna sebagai pengukuhan identitas kolektif Laskar Keadilan dalam tatanan sosial-politik Indonesia saat ini. Organisasi kekaderan yang berdiri atas dasar nilai-nilai luhur bangsa ini tidak boleh kehilangan jati diri dalam menghadapi arus modernisasi dan dinamika politik yang kerap memunculkan disorientasi nilai. Dengan kongres, Laskar Keadilan dapat menegaskan kembali perannya sebagai organisasi yang berakar pada nilai keadilan, keberpihakan pada rakyat kecil, dan integritas moral yang tinggi. Identitas yang kokoh ini menjadi kunci agar organisasi mampu bertahan menghadapi tekanan dan tantangan yang semakin kompleks, sekaligus menjadi simbol harapan bagi masyarakat agar perjuangan keadilan tidak pernah pudar. Dari sinilah kekuatan organisasi akan lahir dan berkembang sebagai kekuatan sosial positif yang mampu berdampak luas.

Terakhir, Kongres ke-2 Laskar Keadilan harus menjadi pintu gerbang menuju masa depan yang lebih cerah dan bermakna bagi seluruh anggota dan masyarakat yang menjadi mitra perjuangan. Seluruh elemen organisasi harus menangkap peluang ini sebagai ruang pembelajaran, penguatan solidaritas, serta peneguhan misi kemanusiaan yang autentik. Adanya kongres ini juga merupakan bukti bahwa organisasi mampu berjalan dengan baik mengikuti dinamika zaman tanpa harus meninggalkan akar nilai-nilai pendirinya. Dengan demikian, kongres bukan hanya menjadi acara tahunan atau lima tahunan semata, melainkan menjadi sebuah peristiwa yang membangun rasa percaya diri, motivasi, dan harapan baru bagi kelangsungan Laskar Keadilan ke depan. Ketika semangat pengkaderan yang kuat dan nilai-nilai luhur bangsa terus dijaga, maka bukan tidak mungkin Laskar Keadilan akan menjadi mercusuar perjuangan keadilan yang tetap menyala terang, memberi inspirasi, dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya di Kabupaten Parigi Moutong.***

PAC Mepanga Apresiasi Tiga Calon Ketua Umum Laskar Keadilan: Siap Membawa Semangat Perubahan

Berita Laskar Keadilan

Penulis : Siti

Editor : Sigit


Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 26 September 2025 - Dalam rangkaian Kongres Laskar Keadilan yang mengusung semangat perubahan, Ketua PAC Kecamatan Mepanga memberikan apresiasi kepada tiga calon Ketua Umum, Bang Ayun, Bang Jeck, dan Bang Kadus, yang dinilai siap membawa organisasi ke arah yang lebih progresif.

Bang Ayun dikenal sebagai sosok konsisten dan berkomitmen tinggi. Gaya kepemimpinannya yang tegas namun terbuka diyakini mampu menjaga integritas serta memperkuat solidaritas di tubuh organisasi.

Sementara itu, Bang Jeck tampil dengan visi progresif dan pendekatan kolektif. Ia memiliki rekam jejak kuat dalam perjuangan organisasi, dengan fokus pada nilai keadilan dan keberpihakan.

Adapun Bang Kadus dinilai membawa semangat perubahan dari akar rumput. Komitmen dan kedekatannya dengan basis menjadikannya simbol kepemimpinan yang membumi serta mampu merajut kebersamaan di tengah keberagaman.

Ketiganya dinilai sebagai figur potensial yang mencerminkan nilai-nilai utama kongres kali ini. Ketua PAC Mepanga berharap, siapapun yang terpilih nanti dapat memimpin Laskar Keadilan dengan integritas, semangat perubahan, dan semangat solidaritas demi kemajuan organisasi lima tahun ke depan.

Sebuah Harapan dari Tanah Lauje untuk Calon Ketua Umum Pemimpin Masa Depan: Demi Kemajuan dan Kemandirian Laskar Keadilan.

Berita Laskar Keadilan

Penulis : Putra Lauje

Editor : Alex

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 25 September 2025 - Sisa beberapa hari lagi menuju pemilihan ketua umum Laskar Keadilan akan di laksanakan tepatnya pada tanggal 11 s/d 12 Oktober 2025 melalui Kongres 2 dengan Tema : “Semangat Baru, Menuju Era Perubahan dalam mewujudkan kepemimpinan yang berintegritas, Solidaritas, untuk mewujudkan organisasi yang lebih baik” , sorotan publik tertuju pada setiap calon yang menawarkan visi dan janji. Lebih dari sekadar memilih pemimpin baru, kita sedang menentukan masa depan, arah, dan identitas organisasi. Bagi kami, para Kader Laskar Keadilan yang mencintai dan peduli, harapan kami bukan hanya sebatas janji-janji kampanye, melainkan sebuah seruan tulus untuk pemimpin yang sejati.
Kami berharap, Anda, para calon ketua umum, menjadi sosok pembangun, bukan hanya penguasa. Jadilah nakhoda yang berani mengarungi badai perubahan zaman, tetapi tetap bijak mendengarkan setiap aspirasi awak kapal.

Organisasi yang tangguh adalah organisasi yang mandiri. Kami tidak ingin lagi bergantung pada belas kasihan pihak lain. Kami berharap Anda memiliki visi strategis untuk menciptakan sumber daya finansial dan non-finansial yang berkelanjutan. Buatlah program-program inovatif yang tidak hanya bermanfaat bagi Kader, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi dan sosial. Jadikanlah setiap kegiatan sebagai investasi jangka panjang untuk kemandirian Laskar Keadilan.

Kekuatan terbesar organisasi ada pada regenerasi. Kami berharap Anda dapat menjadi mentor yang inspiratif, bukan sekadar bos yang memerintah. Berikan kesempatan seluas-luasnya bagi kader-kader muda untuk berkreasi, memimpin, dan mengambil peran penting. Fasilitasi pertukaran ilmu dan pengalaman antar-generasi. Doronglah mereka untuk berani bermimpi dan berkarya, karena di tangan merekalah masa depan organisasi berada.

Organisasi kita adalah rumah bagi berbagai karakter, pemikiran, dan latar belakang. Kami berharap Anda adalah sosok pemersatu yang mampu merangkul semua perbedaan. Hancurkan sekat-sekat personal dan kelompok, dan gantikan dengan semangat kolaborasi yang kuat. Jadikan setiap Kader merasa dihargai dan menjadi bagian integral dari setiap keputusan. Kolaborasi adalah kunci untuk menghadapi tantangan yang kompleks.

Pada akhirnya, nilai kepemimpinan diukur dari integritasnya. Kami berharap Anda adalah pemimpin yang teguh memegang prinsip, transparan dalam setiap tindakan, dan berani mengakui kesalahan. Jadikan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan dan keputusan. Karena janji yang ditepati jauh lebih berharga daripada seribu janji manis yang tak pernah terwujud.

Kami tidak mencari figur yang sempurna, tetapi kami mencari figur yang berani belajar, tulus berjuang, dan bersedia mengabdikan diri sepenuhnya untuk kemajuan organisasi. Kami siap mendukung, mengawal, dan bersama-sama mewujudkan harapan ini.

Pemilihan ketua umum bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari babak baru. Kami berharap, siapa pun yang terpilih nanti, ia adalah sosok yang benar-benar siap memikul tanggung jawab besar ini. Kami siap mendukung, mengawal, dan berpartisipasi aktif, asalkan Anda, para calon, menunjukkan bahwa Anda memang layak menjadi pemimpin kami.

Kami tidak hanya mencari pemenang, tapi pemimpin yang mampu membawa Laskar Keadilan ke level yang lebih tinggi.

"Harapan Pimpinan Wilayah di Kongres kedua"


Berita Laskar Keadilan

Penulis : Ebit

Editor : Alex

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 23 September 2025 - Beberapa harapan yang disampaikan  pimpinan wilayah saat bertemu di kediamannya Desa Tada Timur Kec. Tinombo Selatan Minggu 21 September 2025, pukul 09.35 wita

Pimpinan wilayah Laskar Keadilan Sulteng itu biasa disapa Abangda AYUN menyampaikan  siapapun pemimpin baru yang dihasilkan dari kongres kedua nantinya mampu menjalankan :

1.  Organisasi dan Kaderisas yang Menyusun kurikulum kaderisasi  secara berjenjang, Menghidupkan Musyawarah Ranting, Anak Cabang, dan Cabang secara reguler.

2. Melaksanakan latihan rutin kedisiplinan bagi BALAKSUS (Barisan Laskar Keadilan Khusus) dan kepemimpinan lapangan di tiap cabang,  Membentuk Balaksus Rescue untuk kesiapsiagaan bencana dan tanggap darurat, Membuat standar atribut dan protokol Balaksus agar memiliki identitas yang seragam dan berwibawa, Menugaskan Balaksus sebagai penggerak kegiatan sosial, keamanan internal organisasi, dan kegiatan masyarakat.

3. Menjadikan MDS (Majelis Dzikir dan Shalawat) rutin dua mingguan di tingkat kecamatan sebagai program wajib, Menyelenggarakan peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Tahun Baru Islam, Nuzulul Qur’an, dan Halal Bihalal dengan melibatkan seluruh kader, Membentuk Dewan MDS Laskar Keadilan untuk mengoordinasikan agenda dzikir dan sholawat secara nasional, Mengembangkan media dakwah digital Laskar Keadilan untuk menyiarkan dzikir, sholawat, dan kajian Islam, Menghubungkan MDS dengan pesantren, majelis taklim, dan ulama agar menjadi pusat spiritual kader.

4. MeningkatkanEkonomi, Kesejahteraan, dan Lingkungan, maka ketua umum yang akan terpilih nantinya mampu Membentuk Koperasi Laskar Keadilan untuk mendukung usaha kader, Mendirikan unit usaha produktif di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM berbasis kader, Menginisiasi Gerakan Ketahanan Pangan dengan kebun kolektif, hidroponik, atau pertanian organik, Membentuk Tim Lingkungan Hidup Laskar Keadilan untuk menggerakkan penghijauan, dan advokasi lingkungan.

5. Membentuk Lembaga Advokasi Laskar Keadilan untuk membela hak-hak rakyat kecil, khususnya di bidang tanah, buruh, dan lingkungan, Menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah, ormas, dan lainnya

Kemudian yang paling terpenting adalah setiap pimpinan, baik itu pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, pimpinan anak cabang sampai pada pimpinan ranting wajib mendukung penuh Ketua Umum yang akan terpilih nantinya dikongres ke dua tanpa harus melihat perbedaan. (Ujarnya)

Perbedaan merupakan hal yang dinamis, dan perbedaan itu adalah Rahmat sehingga perbedaan bukanlah alasan untuk tidak bisa bersama, melainkan dengan perbedaan menjadikan organisasi itu akan semakin Indah dan menarik (ungkapnya sambil tersenyum) 

Jangan jadikan perbedaan menjadi perpecahan tapi jadikanlah perbedaan sumber kekuatan, bukankan kita diciptakan sudah dalam keadaan berbeda. Berbeda suku, bangsa, bahasa lalu untuk apa kita mempersoalkan perbedaan (katanya dengan nada tegas)

Harapan terakhir, sukseskan kongres karena dengan suksesnya kongres merupakan kesuksesan untuk kita semua.

Ketua Umum 2019–2025 Mohammad Tamsil Tamrin Sampaikan Harapan dan Pesan Usai Pelaksanaan Kongres II

Berita Laskar Keadilan

Penulis : Ebit

Editor :  Shigit

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 23 September 2025 — Menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya, Ketua Umum periode 2019–2025, Mohammad Tamsil Tamrin, memberikan tanggapan terkait pelaksanaan Kongres II yang akan digelar pada 11–12 Oktober 2025. Dalam pernyataannya, Tamsil menyambut baik agenda penting tersebut sebagai bagian dari proses demokrasi dan regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi.

“Kongres II ini bukan hanya ajang pergantian kepemimpinan, tapi juga momen untuk memperkuat arah dan komitmen organisasi ke depan,” ujar Tamsil dalam keterangannya.

Tamsil berharap Kongres II dapat berlangsung dengan lancar, terbuka, dan melibatkan seluruh unsur organisasi secara aktif. Ia menilai, partisipasi yang kuat dari semua pihak akan memperkaya hasil-hasil kongres dan membawa manfaat besar bagi organisasi.

“Saya berharap kongres ini melahirkan gagasan-gagasan segar, serta keputusan-keputusan strategis yang relevan dengan tantangan dan kebutuhan zaman,” ungkapnya.

Lebih jauh, Tamsil menginginkan agar Kongres II bisa menghasilkan rumusan program kerja yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang. Ia juga mendorong agar hasil kongres tidak hanya bersifat administratif, tapi juga mampu memperkuat identitas, nilai, dan posisi organisasi di tengah masyarakat.

“Organisasi ini harus semakin relevan, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan para anggotanya. Itu yang saya harapkan lahir dari Kongres II,” tegasnya.

Tak lupa, Tamsil menyampaikan pesan khusus untuk ketua umum yang akan terpilih dalam kongres mendatang. Ia menekankan pentingnya kesinambungan dalam kepemimpinan, terutama dalam melanjutkan program-program yang belum terselesaikan di masa kepemimpinannya.

“Kita sudah memulai banyak hal baik, tapi tentu masih ada pekerjaan rumah. Ketua umum berikutnya harus punya semangat untuk melanjutkan dan menyempurnakan, bukan memulai dari nol,” pesannya.

Tamsil juga mengajak seluruh anggota untuk terus menjaga semangat kebersamaan, serta memberikan dukungan penuh kepada kepemimpinan yang baru nantinya.

“Siapa pun yang terpilih, mari kita kawal dan dukung bersama. Karena keberhasilan organisasi ini adalah tanggung jawab kita semua,” tutupnya dengan penuh optimisme.

"PAC Parigi Utara Deklarasi Dukung Bang Kadus, Siap Ciptakan Sejarah Baru di Kongres II Laskar Keadilan"

Berita Laskar Keadilan


Penulis : Tina Atil (Tim Media Laskar Keadilan)

Editor :  Sigit

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 21 September 2025 – Dukungan terhadap calon Ketua Umum Laskar Keadilan periode 2025–2030 semakin meluas. Kali ini giliran Pimpinan Anak Cabang (PAC) Laskar Keadilan Kecamatan Parigi Utara yang menyatakan sikap tegas. Ketua PAC Parigi Utara, Muhammad Nur Hafidz, yang berdomisili di Desa Toboli, dengan lantang menyatakan siap mensukseskan Kongres II sekaligus mengambil peran penting dalam mencetak sejarah baru dengan mendukung penuh Irsan, atau yang akrab disapa Bang Kadus.

Dalam pernyataannya, Hafidz menyebut Bang Kadus sebagai sosok yang memiliki kepribadian sederhana, ramah, dan mudah tersenyum, namun di balik itu menyimpan strategi handal dalam memimpin. Ia menilai, rekam jejak Bang Kadus yang lama mendampingi dan mengikuti langkah-langkah Ketua Umum saat ini, Bang Tamsil, menjadikannya figur yang matang dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan.

“Bang Kadus bukan hanya seorang organisatoris, tapi juga pribadi yang hangat. Senyumnya mampu merangkul siapa saja, sementara strategi dan pengalamannya sudah teruji karena lama bersama Bang Tamsil. Kami di Parigi Utara yakin beliau adalah sosok yang tepat membawa Laskar Keadilan ke arah yang lebih maju,” ujar Hafidz, Jumat (19/9).

Dukungan PAC Parigi Utara ini dinilai sebagai momentum penting, karena memperlihatkan bahwa Bang Kadus bukan sekadar calon biasa, melainkan figur yang mampu membangun harapan baru. Hafidz menegaskan, peran PAC Parigi Utara tidak hanya berhenti pada deklarasi, tetapi juga akan bergerak aktif melakukan konsolidasi dengan PAC lain di Kabupaten Parigi Moutong untuk memperkuat barisan dukungan.

“Kami tidak ingin sekadar ikut meramaikan. Kami ingin mencatat sejarah, bahwa dari Parigi Utara lahir dukungan yang menjadi bagian penting kemenangan Bang Kadus di Kongres II. Kami siap turun langsung, menggalang komunikasi, dan memastikan strategi berjalan efektif,” tambah Hafidz.

Bang Kadus sendiri semakin mendapat tempat di hati kader, bukan hanya karena pengalaman panjangnya di bawah kepemimpinan Bang Tamsil, tetapi juga karena sikap rendah hati yang melekat pada dirinya. Banyak kader menyebutnya sebagai sosok yang dekat dengan akar rumput, tidak berjarak, dan mampu menghadirkan suasana kekeluargaan di tengah dinamika organisasi.

Kongres II Laskar Keadilan yang akan digelar Oktober 2025 kini diprediksi akan berlangsung penuh warna. Dengan munculnya dukungan dari PAC Parigi Utara, peluang Bang Kadus untuk tampil sebagai figur kuat semakin terbuka. Dukungan ini sekaligus mempertegas bahwa dalam kontestasi kali ini, bukan hanya visi organisasi yang dipertaruhkan, tetapi juga kepercayaan kader terhadap sosok yang bisa merangkul sekaligus memimpin dengan strategi yang matang.***

“Kongres II Laskar Keadilan, Ketua Dewan Pembina Moh. Nasir Jamal Bandera: Mari Satukan Pilihan, Satukan Kesetiaan”

Berita Laskar Keadilan


Penulis : Izza Aqila (Tim Media Laskar Keadilan)

Editor : Ebit


Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 21 September 2025 - Suasana sore yang teduh di Markas Besar Laskar Keadilan Senin 15 September 2025, Perumahan Boya Nilamida Blok A III Nomor 09 Desa Pelawa, Kecamatan Parigi Tengah, menjadi saksi sebuah pertemuan santai namun penuh makna. Dengan secangkir kopi hangat di meja — kebiasaan khas beliau dalam setiap diskusi serius — Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat Laskar Keadilan, Moh. Nasir Jamal Bandera, menyampaikan pandangannya mengenai Kongres ke-2 Laskar Keadilan yang akan digelar pada 11–12 Oktober 2025 mendatang.

Dalam perbincangan hangat tersebut, Nasir Jamal Bandera menegaskan bahwa momentum kongres bukan hanya sekadar ajang memilih Ketua Umum, tetapi juga sarana untuk memperkuat persatuan, loyalitas, dan arah gerakan perjuangan organisasi dalam lima tahun ke depan. Ia menekankan bahwa seluruh peserta kongres akan hadir dengan membawa mandat masing-masing, sebagai bentuk tanggung jawab dan kesungguhan dalam menyalurkan aspirasi para kader.

“Silakan berbeda pendapat, silakan berbeda pilihan. Itu hal yang wajar dalam dinamika organisasi. Tetapi ketika kongres sudah menghasilkan satu keputusan, satu kepemimpinan, maka siapapun yang terpilih wajib kita dukung bersama-sama hingga masa jabatannya selesai. Setia mendampingi pemimpin adalah bagian dari menjaga marwah organisasi,” ujar Bang Nasir dengan tenang, sesekali menyeruput kopi kesukaannya.

Menurutnya, kebersamaan dan kesetiaan pasca kongres adalah kunci utama agar Laskar Keadilan mampu melangkah lebih jauh, menjadi organisasi kaderisasi yang benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara. Kongres ini, katanya, harus diisi dengan semangat musyawarah, kebersamaan, serta sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan.

“Jadikan Kongres ke-2 Laskar Keadilan ini sebagai wadah memperkokoh silaturahmi, memperteguh komitmen, dan melahirkan keputusan terbaik bagi organisasi. Mari kita buktikan kepada masyarakat bahwa Laskar Keadilan mampu menunjukkan kedewasaan politik organisasi dengan mengedepankan Demokrasi dan nilai ukhuwah,” tambahnya.

Kehadiran para peserta kongres nantinya diharapkan bukan hanya membawa mandat formal, tetapi juga membawa semangat membangun dan memperkuat ikatan emosional antar kader. Dengan begitu, siapapun yang terpilih sebagai Ketua Umum Laskar Keadilan periode 2025–2030, dapat memimpin dengan tenang, penuh dukungan, dan setia diiringi langkah seluruh kader tanpa terkecuali.

Percakapan sore itu diakhiri dengan senyum hangat sang Ketua Dewan Pembina, sebuah tanda bahwa Kongres II Laskar Keadilan harus dijalani dengan gembira, penuh kebersamaan, dan doa terbaik. “Kita satukan pilihan, kita satukan kesetiaan. Laskar Keadilan harus melangkah lebih maju bersama-sama,” tutup Moh. Nasir Jamal Bandera dengan bijak.

"PAC Parigi Tengah All Out Dukung Bang Jeck, Konsolidasi Jelang Kongres II Laskar Keadilan Makin Panas"

Berita Laskar Keadilan

Penulis : Izza Aqila (Tim Media Laskar Keadilan)

Editor : Alex


Laskar.Keadilan.Blogspot.com - Parigi Moutong, 20 September 2025 - Menjelang Kongres II Laskar Keadilan yang akan digelar Oktober 2025, suhu politik internal organisasi mulai meningkat. Salah satu dinamika terbaru datang dari Kecamatan Parigi Tengah, di mana Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ihkam secara terbuka mendeklarasikan dukungan penuh untuk Bang Jeck sebagai calon Ketua Umum periode 2025–2030.

Dukungan ini tidak hanya berupa sikap formalitas, melainkan komitmen nyata dengan kesiapan PAC Parigi Tengah menjadi barisan terdepan dalam tim sukses. Ihkam menyatakan kesiapannya mengerahkan seluruh potensi PAC untuk memenangkan Bang Jeck, sekaligus merajut konsolidasi dengan beberapa PAC lain.

“Bang Jeck bukan hanya sosok yang visioner, tapi juga pemimpin yang mampu merangkul semua elemen. Kami di Parigi Tengah tidak setengah hati, kami siap all out dan menjadi garda terdepan pemenangan beliau,” tegas Ihkam.

Langkah Ihkam ini dinilai sebagai strategi penting dalam percaturan politik Laskar Keadilan. Dengan kekuatan PAC yang memiliki basis kader solid di akar rumput, dukungan Parigi Tengah bisa menjadi pemicu terbentuknya gelombang dukungan baru di Pimpinan Anak Cabang lain. Apalagi, dalam tradisi kongres organisasi kepemudaan, suara PAC sering menjadi faktor penentu.

Tidak hanya itu, Ihkam juga menyinggung soal strategi jitu yang sudah disiapkan timnya. Ia menyebut bahwa kemenangan dalam kongres tidak hanya ditentukan oleh popularitas kandidat, melainkan oleh kemampuan membangun jaringan lintas struktur. “Kami sudah melakukan komunikasi awal dengan beberapa PAC yang sejalan. Dalam waktu dekat, konsolidasi akan semakin intens, dan kami yakin Bang Jeck akan mendapat dukungan mayoritas,” tambahnya.

Dinamika ini memperlihatkan bahwa Kongres II Laskar Keadilan tidak akan berlangsung datar. Pertarungan kepemimpinan akan diwarnai oleh manuver politik, konsolidasi kekuatan, dan adu gagasan di antara kandidat. Kehadiran Bang Jeck sebagai figur kuat yang mendapatkan dukungan terbuka dari PAC Parigi Tengah menunjukkan bahwa arus perubahan dalam tubuh Laskar Keadilan semakin nyata.

Konteks dukungan ini juga menegaskan bahwa arah kongres tidak semata-mata soal perebutan jabatan, tetapi juga soal siapa yang dianggap mampu menjaga roh organisasi. Sebagai organisasi kaderisasi, Laskar Keadilan membutuhkan kepemimpinan yang mampu meneguhkan nilai loyalitas, disiplin, dan pengabdian sosial. Bang Jeck, menurut para pendukungnya, adalah jawaban atas kebutuhan itu.

Dengan semakin intensifnya manuver politik di tingkat PAC, publik organisasi kini menanti sejauh mana poros-poros dukungan akan terbentuk. Satu hal yang pasti, dukungan Parigi Tengah kepada Bang Jeck memberi sinyal bahwa Kongres II Laskar Keadilan akan berlangsung panas, dinamis, dan penuh kejutan. ***

“Ka Im: Kongres II Laskar Keadilan Harus Jadi Panggung Persatuan dan Penegasan Komitmen Kebangsaan”

Berita Laskar Keadilan



Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 19 September 2025 - Menjelang Kongres II Laskar Keadilan yang akan digelar pada 11–12 Oktober 2025, Ketua Dewan Pendiri Laskar Keadilan, Ibrahim Mangge yang akrab disapa Ka Im, memberikan tanggapan dan harapannya terhadap perhelatan akbar organisasi tersebut. Dalam perbincangan santai namun serius di Markas Besar Laskar Keadilan, Ka Im menekankan bahwa kongres kali ini bukan sekadar agenda pemilihan Ketua Umum, melainkan momentum persatuan dan refleksi nilai-nilai luhur yang harus dijaga bersama.

Ka Im menyampaikan apresiasinya kepada tiga calon Ketua Umum — Bang Ayun, Bang Jeck, dan Bang Kadus — yang telah resmi mendaftarkan diri. Menurutnya, keberanian mereka maju adalah bukti kesungguhan kader terbaik untuk tampil dan memimpin organisasi. “Kita harus mengapresiasi langkah ketiga Kader Laskar Keadilan ini. Mereka maju dengan penuh tanggung jawab, dan itu menunjukkan bahwa Laskar Keadilan memiliki kader-kader tangguh yang siap menjaga marwah organisasi,” ungkapnya dengan senyum hangat.

Namun, Ka Im mengingatkan bahwa kontestasi dalam kongres harus dijalankan dengan etika, sportivitas, dan penuh rasa hormat satu sama lain. Perbedaan pilihan bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan ruang untuk menguatkan persaudaraan. “Kongres ini harus kita jadikan ajang silaturahmi, mempererat hubungan ideologi kebangsaan keindonesiaan dan keagamaan. Jangan sampai ada gesekan yang merusak. Justru perbedaan pilihan harus membawa kita lebih dewasa dan semakin solid,” tegasnya.

Lebih jauh, Ka Im menekankan bahwa kongres bukan hanya urusan organisasi, tetapi juga momentum untuk mengingat kembali komitmen, nilai luhur, dan ajaran para pendiri bangsa. Menurutnya, setiap kader harus menempatkan kongres sebagai wadah refleksi dan penegasan jati diri organisasi. “Kongres ini adalah wujud kecintaan pada organisasi dan upaya mengejawantahkan komitmen serta nilai luhur yang ditanamkan para pendiri bangsa. Kita jangan pernah melupakan itu,” katanya dengan nada penuh keyakinan.

Ka Im juga menegaskan bahwa melalui kongres, Laskar Keadilan harus kembali memperkuat posisinya sebagai organisasi yang setia pada empat pilar Bangsa. “Kongres adalah penegasan diri dan organisasi untuk tetap berkomitmen pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945, serta budaya luhur bangsa Indonesia. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan prinsip yang harus terus kita rawat dan wariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, siapa pun yang terpilih dalam kongres mendatang harus didukung sepenuhnya oleh seluruh kader. Dukungan penuh terhadap hasil kongres adalah bagian dari menjaga persatuan organisasi dan kehormatan Laskar Keadilan. “Silakan berbeda pendapat dan pilihan, itu wajar. Tetapi setelah kongres usai, kita harus bersatu mendukung pemimpin terpilih hingga akhir periode. Itulah bentuk kesetiaan dan kebesaran kita sebagai kader,” ujarnya.

Ka Im juga menyampaikan optimismenya bahwa Kongres II Laskar Keadilan akan berlangsung penuh kekhidmatan, meriah, sekaligus menjadi momentum konsolidasi besar organisasi. Ia berharap semua peserta datang dengan penuh semangat,  siap berdiskusi, bermusyawarah, dan menentukan arah organisasi untuk lima tahun ke depan.

“Kita ingin kongres ini tidak hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga melahirkan semangat baru. Semangat persatuan, semangat kebersamaan, dan semangat memperjuangkan nilai keadilan bagi umat, bangsa, dan daerah. Itulah yang harus kita bawa pulang setelah kongres selesai,” tutup Ka Im sambil menyeruput kopi hitam hangat tanpa gula, kebiasaannya setiap kali berbicara tentang hal-hal besar yang menyangkut organisasi.

Penulis : Hasan (Kader Muda Penggerak Laskar Keadilan)

Editor : Ebit

Ketua Panitia Kongres ke 2 Laskar Keadilan: Harap Lahirkan Pemimpin Amanah dan Berintegritas;

Berita Laskar Keadilan

Muh. Aziz, Ketua Panitia Kongres ke 2

Penulis : Shigit

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 17 September 2025 - Ketua Panitia Pelaksana Kongres ke 2 Laskar Keadilan, Muhamad Aziz, menyampaikan harapannya menjelang pelaksanaan kegiatan lima tahunan tersebut. Ia berharap, melalui momentum Kongres ini, dapat melahirkan pemimpin baru yang amanah, memiliki integritas tinggi, serta mampu membawa perubahan positif bagi organisasi kedepannya.

"Harapan ini kami harapkan pada Kongres ke 2 nanti dapat melahirkan sosok pemimpin yang bisa dipercaya, akan tetapi juga membawa Laskar Keadilan menjadi organisasi mandiri, maju dan transparan dalam lima tahun ke depan," ujar Aziz.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga marwah dan nama baik organisasi dalam setiap proses keberlangsungan organisasi. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari  semangat untuk tumbuh sebagai tongkat estafet dari pemimpin sebelumnya dalam menjaga etika berorganisasi.

"Disisi lain Menjaga marwah organisasi adalah hal utama. dan yang paling penting adalah kita tetap satu komando dalam barisan," tambahnya.

Sebagai panitia pelaksana, Aziz dan timnya juga berharap momentum kegiatan Kongres ke 2 nanti dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan aman sesuai harapan kira bersama, Ia menegaskan bahwa segala persiapan terus dimatangkan demi suksesnya acara.

"Kami berupaya semaksimal mungkin agar Kongres nanti bisa berjalan sesuai harapan: lancar, tertib, dan aman terkendali," tutupnya.

Mengenal lebih Dekat Sosok; Bang Nasir, Ketua Dewan Pembina Organisasi Laskar Keadilan

Berita Laskar Keadilan

Penulis : H A S A N 
(Kader Muda Penggerak Laskar Keadilan) 

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 17 September 2025 - Di sebuah desa kecil bernama Tindaki, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, lahirlah seorang anak pada 5 Januari 1981. Anak itu diberi nama Moh. Nasir Jamal Bandera oleh kedua orang tuanya, Jamal Bandera dan Mas’ani Latjolo. Tidak ada yang menyangka, dari desa yang sederhana itu, kelak tumbuh seorang tokoh yang akan dikenal sebagai Pejuang Gerakan kaderisasi, pendiri organisasi, dan pembina generasi muda yang penuh semangat.

Hidup di desa pada era 1980-an bukan perkara mudah. Infrastruktur pendidikan terbatas, akses informasi tidak semudah hari ini, dan anak-anak desa harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk bisa bersekolah. Namun, justru dari keterbatasan itulah Nasir ditempa. Ia tumbuh dengan karakter tangguh, sederhana, dan tidak mudah menyerah. Orang tuanya mengajarkan arti kerja keras: ayahnya yang tekun, ibunya yang penuh kasih. Dari mereka, ia belajar bahwa hidup harus dijalani dengan kesabaran, kejujuran, dan keteguhan.

Pendidikan: Langkah Kecil Menuju Jalan Panjang

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Wosu di Bungku, Kabupaten Morowali, yang ia tamatkan pada tahun 1994. Anak desa yang haus ilmu ini melanjutkan ke MTs Alkhairaat Wosu Bungku dan lulus pada tahun 1997. Di madrasah itu, ia semakin dekat dengan ilmu agama, menghafal doa-doa, dan belajar makna tanggung jawab moral sebagai seorang muslim.

Tahun 2000, ia menamatkan pendidikan di SMA Negeri 3 Palu. Periode ini menjadi titik balik: ia mulai banyak berinteraksi dengan berbagai organisasi kepemudaan dan kegiatan sosial. Jiwa kepemimpinannya perlahan tumbuh.

Namun, Nasir tahu bahwa bekal pendidikan menengah saja tidak cukup. Ia kemudian merantau jauh ke Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, untuk melanjutkan kuliah S1 di Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA). Lingkungan pesantren modern di sana menempanya menjadi pribadi disiplin, kritis, dan berpikiran terbuka. Ia belajar banyak hal: dari filsafat Islam, pemikiran sosial, hingga kepemimpinan organisasi. Tahun 2004, ia menuntaskan studi sarjana, membawa pulang semangat baru ke tanah kelahirannya.

Belum puas, ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Tahun 2019, ia berhasil meraih gelar S2 di IAIN Datokarama Palu (sekarang UIN Datokarama Palu). Bagi Nasir, ilmu tidak pernah ada batasnya. Pendidikan bukan hanya soal gelar, melainkan tentang bekal moral, intelektual, dan spiritual untuk memperjuangkan umat dan bangsa.

Jejak Organisasi: Dari Mahasiswa Hingga Pemuda

Sejak mahasiswa, Nasir aktif di berbagai organisasi. Ia pernah menjadi kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),  juga aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dari sana, ia belajar bahwa organisasi adalah ruang dialektika. Perbedaan gagasan bukanlah alasan untuk bertikai, tetapi jalan untuk melahirkan ide-ide besar.

Kemudian, ia terlibat aktif di Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), organisasi pemuda Nahdlatul Ulama yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga NKRI dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Pada periode 2017–2019, ia dipercaya sebagai Ketua GP Ansor Kabupaten Parigi Moutong. Masa kepemimpinan ini membawanya ke garda depan dalam mengawal generasi muda agar tetap teguh pada nilai kebangsaan sekaligus berani menghadapi tantangan zaman.

Dalam setiap forum organisasi, Nasir dikenal sebagai sosok yang enak diajak diskusi. Ia tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mendengar. Ia punya kemampuan untuk merangkum gagasan banyak orang lalu menjadikannya satu jalan Gerakan perjuangan. Tidak heran, rekan-rekannya menyebutnya sebagai penggerak yang tak kenal lelah.

Lahirnya Laskar Keadilan: Rumah Baru bagi Kaderisasi

Puncak kiprah Nasir adalah saat ia bersama Teman teman nya saat itu mendirikan organisasi Laskar Keadilan pada tahun 2019. Ia melihat adanya kebutuhan akan organisasi yang tidak sekadar menjadi wadah seremonial, melainkan benar-benar menjadi sekolah kader berjenjang.

Laskar Keadilan lahir dari kegelisahan: banyak pemuda yang potensinya terbuang karena tidak mendapatkan ruang kaderisasi yang sistematis. Dengan semangat itu, Nasir menggagas sebuah organisasi yang fokus pada kegiatan pengkaderan dasar, lanjutan, hingga nasional, bahkan sampai pada pelatihan instruktur.  sebagai Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat (2019–2025), Laskar Keadilan menjelma menjadi rumah besar bagi kader muda di Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah.

Namun, perannya di Laskar Keadilan tidak sekadar struktural. Ia adalah roh gerakan. Ia tidak hanya memberi arahan dari atas, tetapi turun langsung, ikut menemani kader dalam pelatihan, mendampingi diskusi, bahkan hadir di acara-acara kecil di desa-desa. Itulah sebabnya, bagi kader, ia adalah figur misterius: tidak banyak tampil di panggung, tetapi kehadirannya selalu terasa.

Sosok Misterius yang Membumi

Kata “misterius” sering disematkan padanya. Misterius bukan karena ia sulit dipahami, tetapi karena ia jarang menampilkan diri ke publik. Ia lebih suka bekerja dalam diam, membiarkan hasilnya berbicara. Ia bukan tipe pemimpin yang haus tepuk tangan.

Namun, di balik sikap kalem itu, ia dikenal sebagai sosok ramah. Setiap bertemu, ia selalu menyapa, tersenyum, dan membuka ruang obrolan. Ia tidak pernah merendahkan orang lain. Bahkan terhadap lawan politik sekalipun, ia tetap menjaga etika. Inilah yang membuatnya disegani sekaligus disayangi.

Nasir juga seorang Pengkader alami. Ia tidak menggurui, tetapi mengarahkan dengan lembut. Banyak kader muda yang mengaku bahwa mereka bertahan di organisasi karena merasa didengar dan dihargai oleh Nasir.

Keluarga: Sumber Energi yang Sejati

Di balik Gerakan perjuangan panjangnya, Nasir adalah seorang suami dan ayah dari tiga anak. Keluarganya adalah energi utama yang membuatnya tetap kokoh di jalan juang. Ia selalu menekankan bahwa keluarga adalah madrasah pertama.  Jika kaderisasi di organisasi penting, maka kaderisasi di rumah tangga jauh lebih penting.

Refleksi: Arti Perjuangan

Bagi Nasir, perjuangan bukan soal pangkat atau posisi. Ia pernah berkata dalam sebuah forum kecil, “Organisasi itu bukan milik satu orang. Organisasi itu rumah bersama. Kalau kita ingin rumah ini kuat, maka kita harus ikhlas mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran.” Kalimat sederhana itu mencerminkan filosofi hidupnya: ikhlas berjuang tanpa pamrih.

Ia memahami bahwa dunia organisasi sering melelahkan. Konflik internal, dinamika politik, bahkan fitnah kadang datang silih berganti. Namun, Nasir memilih tidak larut dalam perdebatan kosong. Ia lebih suka fokus pada hal-hal nyata: bagaimana kader bisa berkembang, bagaimana masyarakat bisa tercerahkan, dan bagaimana organisasi tetap berdiri tegak.

Sosok yang Terus Hidup dalam Gerakan Perjuangan

Kini, menjelang Kongres II Laskar Keadilan tahun 2025, nama Nasir kembali menjadi sorotan. Meski perannya sebagai Ketua Dewan Pembina periode 2019–2025 segera berakhir, jejaknya akan tetap hidup. Ia adalah fondasi, sekaligus ruh, yang membuat Laskar Keadilan tetap kokoh.

Orang boleh datang dan pergi, jabatan boleh berganti, tetapi nama Moh. Nasir Jamal Bandera akan selalu dikenang sebagai pendiri, pembina, dan penggerak yang mengajarkan bahwa kaderisasi adalah jalan panjang menuju peradaban.

Dari desa kecil Tindaki hingga panggung organisasi, ia telah menempuh perjalanan panjang. Ia adalah bukti nyata bahwa dari kesederhanaan bisa lahir sebuah kekuatan besar. Misterius, ramah, konsisten, dan penuh dedikasi—itulah Moh. Nasir Jamal Bandera, sosok yang mengajarkan kita arti Gerakan Perjuangan sejati.***

"Lelah Tanpa Menyerah"

Berita Laskar Keadilan


Penulis : Adiba

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 17 September 2025 - Di Akhir masa kini terlihat engkau lelah, Meski raut wajah berusaha tersenyum
Tapi siapa yang tidak bisa melihat semua itu?   
Kantung matamu sudah menghiasi
Yang tidak bisa membohongi
Bahwa seorang pemimpin juga lelah
Berjuang dari pagi, siang hingga tak terasa ternyata malam telah berlalu,
Engkau  memikirkan nasib banyak orang
Namun kelelahan tidak membatasi
Karena engkau masih berseri

Kini engkau diperhadapkan dengan agenda besar, yang harus mensukseskan kongres ke-2 Laskar Keadilan, padahal kegiatan itu menjadikan dirimu akan tergantikan dengan pemimpin yang baru. 

Dirimu pasti terharu, untuk melepas jabatanmu, dimana dirimu perna membesarkan dan mencatatkan sejarah, menciptakan 114 pengkaderan melalui kader-kadermu secara berjenjang, bisa terlihat jika itu dibayangkan betapa besar pengorbananmu.

Mungkinkah engkau bertanya apakah nanti pemimpin yang baru akan lebih baik ataukah membawa keburukan, namun harapanmu setidaknya harus lebih baik

Maka aku berterima kasih
Meski lelah engkau tidak menyerah.

Merajut Kembali Semangat Kebersamaan: Jalan Baru Laskar Keadilan Pasca Kongres II

Berita Laskar Keadilan


Penulis : Rahmat Hasyim Sahrain
(Kader Penggerak Muda Laskar Keadilan)

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 16 September 2025 - Organisasi ibarat rumah besar. Di dalamnya ada banyak ruang, banyak penghuni, banyak peran, dan tentu saja ada suka dan duka yang mengiringi perjalanan. Laskar Keadilan sebagai sebuah organisasi kaderisasi yang lahir dari semangat perjuangan dan pengabdian, telah menempuh jalan panjang dalam lima tahun terakhir. Tidak bisa dipungkiri, dua tahun terakhir (2024–2025) menjadi masa yang cukup berat. Kegiatan kaderisasi menurun drastis, semangat pengurus di tingkat ranting dan anak cabang kian merosot, bahkan kehadiran kader dalam berbagai agenda tidak lagi sepadat dulu.

Namun, kondisi ini bukanlah akhir. Justru inilah momentum bagi kita semua untuk melakukan evaluasi, merenung, dan merajut kembali semangat kebersamaan. Kongres II Laskar Keadilan yang akan dilaksanakan pada 11–12 Oktober 2025 menjadi panggung strategis untuk melahirkan pemimpin baru, ide-ide segar, serta tekad bersama guna membangkitkan organisasi dari keletihan menuju kebangkitan.

Tulisan ini mencoba menimbang persoalan, mencari akar masalah, dan menawarkan solusi argumentatif agar Ketua Umum terpilih pasca Kongres II mampu membawa Laskar Keadilan kembali solid, berdaya, dan relevan.

Membaca Kondisi: Penurunan Semangat di Tingkat Ranting dan Anak Cabang

Organisasi besar selalu berakar pada basis yang paling kecil. Di Laskar Keadilan, kekuatan sejati ada pada ranting dan anak cabang. Mereka adalah ujung tombak, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sekaligus menjadi wajah organisasi di tingkat lokal.

Namun, data kaderisasi menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Jika pada 2020–2022 kegiatan kaderisasi tumbuh pesat, dengan jumlah angkatan mencapai 81 dalam tiga tahun, maka memasuki 2023 angka itu menurun, dan di tahun 2024–2025 hanya tersisa tiga angkatan kaderisasi. Angka ini ibarat alarm bagi kita semua.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor:

1. Kelelahan struktural
Banyak pengurus di ranting dan anak cabang merasa terbebani tanpa ada penyegaran. Mereka bekerja tanpa dukungan yang memadai, sehingga motivasi menurun.

2. Kurangnya komunikasi vertikal
Jarak antara pimpinan pusat dengan basis kader di bawah semakin lebar. Rekomendasi kongres atau program pusat sering tidak sampai ke akar rumput dengan baik.

3. Krisis regenerasi internal
Banyak kader muda tidak tertarik terlibat aktif karena merasa organisasi kehilangan gairah dan inovasi.

4. Faktor eksternal
Situasi sosial-ekonomi masyarakat juga mempengaruhi. Banyak kader sibuk dengan pekerjaan dan urusan pribadi, sehingga partisipasi dalam kegiatan menurun.

 Pentingnya Kebersamaan dalam Organisasi

Laskar Keadilan tidak mungkin bangkit jika semangat kebersamaan tidak di rajut kembali. Kebersamaan bukan sekadar hadir dalam rapat atau acara, melainkan perasaan memiliki, komitmen, dan kesadaran bahwa organisasi ini adalah bagian dari hidup setiap kader.

Secara sosiologis, organisasi yang mampu bertahan lama selalu memiliki ikatan emosional di antara anggotanya. Ikatan ini lahir dari interaksi yang intens, komunikasi yang sehat, dan pengalaman kolektif yang menyenangkan.

Jika dalam dua tahun terakhir kebersamaan itu merosot, maka tugas Ketua Umum pasca Kongres II adalah mengembalikan roh persaudaraan. Tanpa itu, sehebat apa pun program hanya akan berhenti di atas kertas.

 Agenda Pasca Kongres: Merajut Ulang Semangat

Kongres II bukan hanya forum memilih Ketua Umum, melainkan juga momentum penyusunan arah baru organisasi. Ada beberapa agenda yang harus menjadi fokus utama kepemimpinan baru:

1. Konsolidasi Internal

* Ketua Umum terpilih harus segera melakukan safari organisasi ke ranting dan anak cabang. Kehadiran fisik di lapangan sangat penting untuk menunjukkan bahwa pusat tidak jauh dari basis.

* Menyusun kembali struktur dengan pendekatan reshuffle sehat: menempatkan kader yang aktif dan loyal di posisi strategis.

2. Revitalisasi Kaderisasi

* Menyusun sistem kaderisasi berjenjang dengan modul yang jelas. 

* Memanfaatkan teknologi digital untuk menggelar pelatihan online bagi kader yang tidak bisa hadir secara fisik.

3. Membangun Kemandirian Ekonomi Kader

- Organisasi tidak bisa hanya berbicara ideologi tanpa menyentuh aspek ekonomi. Ketua Umum baru harus mendorong program ekonomi kader berbasis komunitas, seperti koperasi, usaha pertanian, atau UMKM bersama.

- Program ketahanan pangan lokal bisa menjadi prioritas.

4. Menumbuhkan Ruang Kebersamaan

- Melaksanakan agenda-agenda nonformal: olahraga bersama, diskusi santai, hingga kerja bakti sosial. Hal semacam ini, bisa menghidupkan kembali kehangatan antar kader.

 Argumentasi: Mengapa Kebersamaan adalah Kunci?

Alasan mendasar :

1. Basis Legitimasi Organisasi

Tanpa dukungan ranting dan anak cabang, kepemimpinan pusat kehilangan legitimasi. Kebersamaan adalah sumber legitimasi sejati.

2. Daya Tahan Menghadapi Krisis

Organisasi yang solid akan mampu bertahan di tengah badai, baik itu krisis politik, sosial, maupun ekonomi. Kebersamaan membuat setiap kader merasa tidak sendiri.

3. Relevansi dengan Masyarakat

Laskar Keadilan bukan sekadar organisasi internal, tetapi juga bagian dari masyarakat. Jika internalnya tidak solid, bagaimana mungkin bisa relevan dengan tantangan sosial di luar?

Solusi Konkret bagi Ketua Umum Baru

Ketua Umum terpilih pasca Kongres II harus kreatif, inovatif, dan solutif.

Beberapa langkah konkret yang bisa ditempuh:

1. Menghidupkan Forum Silaturahmi

- Setiap ranting diwajibkan membuat agenda silaturahmi Mingguan atau bulanan.

- Pimpinan pusat menfasilitasi dengan dukungan moral maupun logistik sederhana.

2. Program “Turun ke Basis”

- Ketua Umum dan pengurus pusat harus membuat jadwal kunjungan rutin ke daerah.

- Kehadiran fisik menjadi simbol perhatian yang nyata.

3. Mekanisme Apresiasi Kader

- Memberi penghargaan kepada ranting atau anak cabang yang aktif.
   
* Penghargaan tidak harus besar, cukup simbolis, tapi mampu menumbuhkan kebanggaan.

4. Digitalisasi Komunikasi Organisasi

   
* Membuat platform komunikasi resmi agar informasi tidak terputus.
   
* Membuka ruang diskusi online sehingga kader bisa menyampaikan aspirasi kapan saja.

5. Proyek Ekonomi Kolektif

   
* Meluncurkan koperasi atau usaha bersama yang melibatkan kader di setiap tingkat.
   
* Fokus pada sektor ketahanan pangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Menyongsong Masa Depan"

Kebersamaan bukanlah sesuatu yang instan. Ia harus dirawat, disiram, dan dijaga bersama-sama.

Ketua Umum baru  nanti nya tidak bisa bekerja sendirian, tetapi membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh kader.

Kita perlu mengingat kembali pesan penting organisasi ini berdiri karena kebersamaan hanya akan bertahan karena kebersamaan pula. Maka Kongres II hanyalah pintu masuk. Setelah itu, perjalanan panjang akan dimulai kembali.

Penutup

Laskar Keadilan pernah membuktikan diri sebagai organisasi yang mampu mencetak 114 angkatan kaderisasi dalam lima tahun. Itu adalah prestasi besar. Namun, dua tahun terakhir menunjukkan bahwa organisasi bisa saja mengalami penurunan jika semangat kebersamaan tidak dijaga.

Pasca Kongres II Nanti, kita akan dihadapkan pada pilihan ; membiarkan organisasi merosot lebih jauh atau bersama-sama merajut kembali semangat kebersamaan untuk bangkit lebih kuat !

Pemimpin baru harus sadar bahwa tugasnya bukan hanya menyusun program, tetapi juga menyalakan kembali api kebersamaan di setiap ranting dan anak cabang. Karena hanya dengan kebersamaan Laskar Keadilan bisa bertahan, berkembang, dan memberi kontribusi nyata bagi Negara, Bangsa dan Masyarakat.

Membayangkan Kongres II Laskar Keadilan Nanti: Kedewasaan, Saatnya Membuktikan

Berita Laskar Keadilan


Penulis : Murod Ahmed 
(Simpatisan Dan Pemerhati Laskar Keadilan)

Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 14 September 2025 - Saya yakin dan percaya, Kongres II Laskar Keadilan pada 11–12 Oktober 2025 nanti akan menjadi ruang paling penting dalam perjalanan organisasi ini. Bukan sekadar forum memilih ketua umum baru, bukan sekadar rutinitas yang diatur PD/PRT - PO, melainkan ruang refleksi besar atas perjalanan lima tahun pertama yang penuh dinamika. Saya ingin menuliskan refleksi ini bukan dengan bahasa kaku, melainkan dengan menggambarkan bagaimana suasana kongres itu nanti, bagaimana denyut semangat para kader, dan bagaimana organisasi ini mencoba bangkit dari pasang surut yang dialami.

Bayangkanlah sebuah aula besar di Parigi. Spanduk besar bertuliskan “Kongres II Laskar Keadilan” terpasang rapi di panggung utama. Kader dari ranting, anak cabang, cabang, hingga wilayah hadir dengan seragam kebanggaan. Mereka datang bukan hanya membawa mandat organisasi, tetapi juga membawa harapan yang selama ini terpendam. Ada wajah-wajah muda penuh semangat, ada pula wajah-wajah senior yang penuh pengalaman. Semua menyatu dalam satu ruang, menunggu detik-detik penentuan arah lima tahun ke depan.

Di dalam ruang sidang itu, suara-suara akan terdengar riuh. Ada perdebatan tentang laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2020–2025. Ada yang mengkritik keras penurunan jumlah kaderisasi di dua tahun terakhir—hanya 2 angkatan di 2024 dan 1 angkatan di 2025. Ada pula yang memberi apresiasi, karena meskipun menurun, total 114 angkatan tetaplah capaian besar dalam satu periode. Tepuk tangan sesekali terdengar, bersaing dengan suara meja yang diketuk untuk meminta ketertiban. Begitulah suasana kongres: penuh gairah, penuh perdebatan, tetapi selalu dalam bingkai cinta pada organisasi.

Di sela-sela perdebatan itu, terselip rasa letih. Kader di ranting dan anak cabang menceritakan bagaimana mereka merasa kesepian di dua tahun terakhir. Kegiatan menurun, kebersamaan merosot, bahkan ada yang bertanya-tanya apakah semangat Laskar Keadilan masih hidup. Namun pada saat yang sama, ada pula yang menolak pesimisme. Mereka mengatakan, inilah bagian dari perjalanan belajar. Setiap organisasi pasti melewati fase pasang surut. Yang penting bukan hanya mengeluh, tetapi bagaimana bangkit dan memperbaiki.

Inilah yang membuat Kongres II berbeda dari sebelumnya. Ia bukan hanya forum politik, melainkan juga forum emosional, forum perasaan kader yang ingin didengar. Tidak ada yang menyangkal bahwa periode pertama punya banyak catatan, tetapi juga tidak ada yang menolak bahwa periode pertama memberi pengalaman tak ternilai. Dari sanalah lahir keyakinan baru: periode kedua harus lebih dewasa, lebih mandiri, dan lebih berdampak.

Saya membayangkan, dalam sesi pemilihan ketua umum nanti, suasana akan sangat tegang. Para kandidat maju ke depan, menyampaikan visi mereka. Kata-kata mereka disimak dengan seksama. Kader tidak lagi mudah terpikat oleh retorika kosong. Mereka ingin mendengar solusi nyata: bagaimana membangun kembali kaderisasi, bagaimana menghidupkan kebersamaan. Kader ingin mendengar jawaban, bukan janji.

Di pojok aula, mungkin ada kader muda yang berbisik: “Kita butuh ketua umum yang bisa merangkul semua, bukan yang hanya memikirkan kelompoknya.” Bisikan itu sederhana, tapi mencerminkan harapan banyak orang. Kader tidak ingin lagi terjebak dalam perpecahan. Mereka ingin organisasi ini kembali menjadi rumah bersama, tempat semua orang merasa punya tempat.

Di luar ruang sidang, suasana lebih cair. Kader saling bercanda, saling melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Ada yang bercerita tentang perjuangan mereka di ranting, ada yang mengenang masa-masa awal organisasi berdiri. Semua itu menunjukkan satu hal: meskipun ada perbedaan, ada keletihan, ada kekecewaan, rasa memiliki terhadap Laskar Keadilan masih kuat. Inilah modal terbesar untuk bangkit.

Lalu, apa yang harus kita pelajari dari periode pertama? Pertama, bahwa semangat besar di awal tidak cukup tanpa konsistensi. Tahun 2022 yang penuh ledakan kaderisasi membuktikan bahwa kita bisa besar, tapi penurunan di 2024–2025 membuktikan kita rapuh jika tidak menjaga ritme. Kedua, bahwa organisasi tidak bisa hidup hanya dari idealisme. Kader butuh dukungan, organisasi butuh Kemandirian. Tanpa itu, semangat cepat meredup. Ketiga, bahwa kepemimpinan harus adaptif. Ketua umum bukan hanya simbol, tapi penggerak yang mampu mendengar suara kader paling bawah.

Dari sini, saya yakin pemimpin baru yang lahir dari Kongres II harus berani membawa arah baru. Ia harus memulai program kemandirian  kader, entah lewat koperasi, pelatihan wirausaha, atau jaringan usaha antar kader. Ia harus berani menata ulang sistem kaderisasi, lebih fokus pada kualitas daripada sekadar jumlah. Ia juga harus membangun ruang komunikasi yang sehat, di mana kritik diterima sebagai masukan, bukan ancaman.

Tentu, jalan ini tidak mudah. Tapi bukankah organisasi besar lahir dari keberanian menghadapi kesulitan? Saya yakin, setelah lima tahun belajar, kita sekarang lebih siap. Kita tahu di mana kelemahan kita, dan kita tahu apa yang harus diperbaiki. Kongres II adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bukan hanya bisa bertahan, tapi juga bisa bangkit lebih kuat.

Akhirnya, saya ingin menutup refleksi ini dengan sebuah keyakinan. Bahwa Kongres II bukan akhir, melainkan awal baru. Awal dari periode kedua yang lebih dewasa. Awal dari perjalanan yang tidak hanya mengandalkan semangat, tapi juga strategi. Awal dari organisasi yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Saya yakin dan percaya, Laskar Keadilan bisa bangkit. Selama kita bersatu, saling percaya, dan setia pada amanah Gerakan Perjuangan, organisasi ini tidak akan punah. Kongres II adalah momentum untuk membuktikan hal itu. Mari kita sambut dengan hati yang jernih, pikiran yang terbuka, dan tekad yang kuat.

Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan berapa banyak kita berdebat, tetapi sejauh mana kita bisa belajar dari masa lalu dan melangkah lebih jauh ke depan. Dan saya percaya, Laskar Keadilan sudah siap untuk itu.

Awwww... Awwwwww... 
Awwwwwwww... 😎😎😎