Penulis : A Y U N
(Ketua Pimpinan Wilayah Laskar Keadilan Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2022 - 2026)
Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 14 September 2025 - Membangun Kemandirian Ekonomi Kader: Harapan Baru dari Kongres II Laskar Keadilan di Parigi Moutong
Kongres ke II Laskar Keadilan yang akan digelar pada tanggal 11–12 Oktober 2025 di Kabupaten Parigi Moutong bukan hanya sekadar agenda lima tahunan untuk memilih ketua umum baru. Lebih dari itu, ia adalah momentum refleksi dan proyeksi: refleksi atas capaian satu periode kepemimpinan sebelumnya, serta proyeksi arah masa depan organisasi, khususnya dalam menjawab tantangan kemandirian ekonomi kader.
Dalam catatan sejarah perjalanan organisasi, Laskar Keadilan telah berhasil melaksanakan 114 angkatan kaderisasi sejak 2020 hingga 2025. Angka ini membuktikan semangat pengaderan masih terjaga, meski dalam perjalanannya sempat mengalami pasang surut. Akan tetapi, kaderisasi semata tidak cukup. Organisasi modern dituntut tidak hanya menghasilkan kader yang militan, tetapi juga kader yang mampu bertahan dalam dinamika ekonomi yang kian kompleks.
Karena itu, Kongres II harus meneguhkan orientasi baru: membangun kemandirian ekonomi kader. Kemandirian ekonomi bukan hanya soal kesejahteraan pribadi kader, tetapi juga fondasi bagi kekuatan organisasi dalam jangka panjang. Dalam konteks krisis pangan global, ketahanan ekonomi kader bahkan bisa menjadi pilar ketahanan pangan nasional.
Ekonomi Kader sebagai Pilar Kemandirian Organisasi
Sejarah banyak menunjukkan bahwa organisasi sosial, politik, maupun keagamaan akan rentan apabila tidak memiliki kemandirian ekonomi. Ketika organisasi bergantung penuh pada donasi eksternal atau dukungan pihak tertentu, maka kedaulatannya dalam mengambil keputusan seringkali terkooptasi oleh kepentingan Pendonor.
Bagi Laskar Keadilan, tantangan itu nyata adanya. Selama satu periode terakhir, kegiatan organisasi banyak ditopang oleh iuran sukarela, donasi, atau dukungan dari simpatisan. Hal ini wajar, tetapi tidak cukup untuk menopang keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang. Diperlukan model ekonomi yang lebih sistematis, terencana, dan berkelanjutan.
Kemandirian ekonomi kader memiliki dua dimensi:
1. Individu – setiap kader dibekali keterampilan ekonomi agar mampu mandiri, berdaya saing, dan tidak bergantung pada bantuan eksternal.
2. Kolektif – organisasi mengembangkan model usaha bersama yang bisa menopang kegiatan organisasi, sambil melatih kader dalam dunia kewirausahaan.
Jika dua dimensi ini berjalan beriringan, maka Laskar Keadilan tidak hanya menghasilkan kader militan secara ideologis, tetapi juga tangguh secara ekonomi.
Ketahanan Pangan sebagai Fokus Utama
Mengapa ketahanan pangan harus menjadi salah satu fokus utama kemandirian ekonomi kader?
Pertama, karena pangan adalah kebutuhan dasar yang menentukan stabilitas masyarakat. Krisis pangan akan selalu berimplikasi langsung pada krisis sosial dan politik. Kedua, Indonesia meski kaya sumber daya alam masih menghadapi tantangan serius dalam distribusi, kedaulatan benih, hingga ketergantungan impor.
Kader Laskar Keadilan dapat mengambil peran penting dalam isu ini. Dengan basis kader yang tersebar di berbagai Desa, kecamatan hingga kabupaten, organisasi memiliki potensi menjadi motor penggerak ketahanan pangan lokal.
Model-model usaha yang bisa digarap misalnya:
* Pertanian organik berbasis komunitas.
* Peternakan skala kecil menengah dengan orientasi pasar lokal.
* Pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.
* Sistem distribusi pangan mandiri berbasis koperasi kader.
Dengan memanfaatkan jaringan kader, kegiatan ini bisa menjadi laboratorium sosial-ekonomi yang tidak hanya menyejahterakan kader, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan di tingkat regional maupun nasional.
Kreativitas dan Inovasi: Bekal Pemimpin Baru
Pemimpin yang terpilih pada Kongres II nanti harus memahami bahwa tantangan ekonomi kader tidak bisa dijawab dengan pola lama. Dibutuhkan kepemimpinan yang kreatif dan inovatif.
Beberapa pendekatan yang bisa ditempuh antara lain:
1. Ekonomi Digital-
Pemimpin baru harus mendorong kader agar melek teknologi digital. E-commerce, digital marketing, hingga financial technology dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk kader ke pasar yang lebih luas.
2. Koperasi Modern-
Koperasi bukan lagi model kuno. Dengan manajemen profesional, koperasi kader bisa menjadi basis kekuatan ekonomi kolektif, baik dalam simpan pinjam, usaha bersama, maupun distribusi hasil pertanian dan peternakan.
3. Inkubator Bisnis Kader-
Kongres harus merekomendasikan pembentukan unit khusus yang berfungsi sebagai inkubator bisnis kader. Unit ini bertugas memberikan pelatihan, pendampingan, dan akses permodalan bagi kader yang ingin memulai usaha.
4. Green Economy dan Pangan Berkelanjutan-
Kader harus diarahkan untuk terlibat dalam sektor ekonomi hijau: pertanian ramah lingkungan, energi terbarukan, dan usaha berbasis daur ulang. Selain relevan dengan isu global, hal ini juga mendukung agenda ketahanan pangan.
Tantangan Nyata yang Harus Diatasi
Tentu saja membangun kemandirian ekonomi kader tidak mudah. Ada beberapa tantangan nyata yang harus dihadapi:
1. Minimnya Modal Awal-
Banyak kader memiliki ide usaha, tetapi terbentur pada keterbatasan modal. Inilah pentingnya peran organisasi dalam memfasilitasi akses permodalan, baik melalui koperasi internal maupun kemitraan dengan lembaga keuangan.
2. Kurangnya Kapasitas Manajerial-
Tidak semua kader memiliki keterampilan manajemen usaha. Oleh karena itu, pelatihan intensif dalam hal manajemen, akuntansi, dan pemasaran mutlak diperlukan.
3. Budaya Konsumtif-
Tantangan kultural juga tidak kalah penting. Budaya konsumtif dan ketergantungan pada bantuan eksternal seringkali melemahkan semangat kemandirian. Pemimpin baru harus membangun budaya produktif dan etos kerja yang kuat di kalangan kader.
4. Pasar yang Kompetitif-
Persaingan pasar semakin ketat, terutama dengan dominasi produk impor atau perusahaan besar. Kader harus diarahkan untuk mencari ceruk pasar (niche market) yang relevan, misalnya produk lokal organik, pangan sehat, atau kerajinan khas daerah.
Momentum Kongres II: Merumuskan Rekomendasi Ekonomi
Kongres II harus menjadi forum untuk merumuskan rekomendasi yang konkret, bukan sekadar seremonial. Rekomendasi ini bisa meliputi:
* Pembentukan Badan Ekonomi Kader- sebagai sayap organisasi yang mengelola program kemandirian ekonomi.
* Penetapan program - "Satu Kader, Satu Usaha atau Satu Ranting, Satu Usaha " yang memotivasi setiap kader memiliki usaha produktif, sekecil apapun.
* Pembangunan Koperasi Digital Laskar Keadilan- yang mengintegrasikan usaha kader dalam satu platform bersama.
* Rencana strategis Ketahanan Pangan Kader yang fokus pada sektor pertanian, peternakan, dan pengolahan hasil pangan lokal.
Jika rekomendasi ini benar-benar dijalankan, maka Laskar Keadilan bisa menjadi organisasi yang bukan hanya kuat secara ideologis, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Harapan untuk Masa Depan
Kemandirian ekonomi kader adalah jalan panjang yang tidak bisa selesai dalam satu malam. Tetapi, Kongres II dapat menjadi titik awal yang menentukan. Pemimpin baru harus memiliki visi jauh ke depan: mencetak kader yang tidak hanya mampu berbicara di forum sosial Masyarakat, politik, tetapi juga mampu mengolah lahan, mengelola usaha, dan menciptakan lapangan kerja.
Di tengah krisis global yang melanda dunia, hanya organisasi dengan basis ekonomi mandiri yang akan mampu bertahan. Laskar Keadilan memiliki modal sosial yang kuat: kader militan, jaringan luas, dan tradisi pengkaderan. Tinggal bagaimana modal sosial ini diolah menjadi modal ekonomi yang berkelanjutan.
Penutup
Kongres II Laskar Keadilan di Parigi harus menjadi tonggak sejarah baru. Dari sekadar organisasi kaderisasi, Laskar Keadilan harus naik kelas menjadi organisasi yang berkontribusi nyata pada kesejahteraan anggotanya dan masyarakat luas.
Membangun kemandirian ekonomi kader bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan.Dengan kreativitas, inovasi, dan visi kepemimpinan yang jelas, organisasi ini bisa menjelma menjadi motor ketahanan pangan lokal, regional, bahkan nasional.
Harapan kini tertumpu pada pemimpin baru yang akan terpilih. Akankah ia mampu menjawab tantangan zaman dengan gagasan segar dan langkah nyata? Kongres II akan menjadi saksi apakah Laskar Keadilan benar-benar siap menapaki jalan kemandirian ekonomi, atau hanya berhenti pada retorika.
Wallahu A'lam Bish Showab

