Penulis : Murod Ahmed
(Simpatisan Dan Pemerhati Laskar Keadilan)
Laskar.Keadilan.Blogspot.com - 14 September 2025 - Saya yakin dan percaya, Kongres II Laskar Keadilan pada 11–12 Oktober 2025 nanti akan menjadi ruang paling penting dalam perjalanan organisasi ini. Bukan sekadar forum memilih ketua umum baru, bukan sekadar rutinitas yang diatur PD/PRT - PO, melainkan ruang refleksi besar atas perjalanan lima tahun pertama yang penuh dinamika. Saya ingin menuliskan refleksi ini bukan dengan bahasa kaku, melainkan dengan menggambarkan bagaimana suasana kongres itu nanti, bagaimana denyut semangat para kader, dan bagaimana organisasi ini mencoba bangkit dari pasang surut yang dialami.
Bayangkanlah sebuah aula besar di Parigi. Spanduk besar bertuliskan “Kongres II Laskar Keadilan” terpasang rapi di panggung utama. Kader dari ranting, anak cabang, cabang, hingga wilayah hadir dengan seragam kebanggaan. Mereka datang bukan hanya membawa mandat organisasi, tetapi juga membawa harapan yang selama ini terpendam. Ada wajah-wajah muda penuh semangat, ada pula wajah-wajah senior yang penuh pengalaman. Semua menyatu dalam satu ruang, menunggu detik-detik penentuan arah lima tahun ke depan.
Di dalam ruang sidang itu, suara-suara akan terdengar riuh. Ada perdebatan tentang laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2020–2025. Ada yang mengkritik keras penurunan jumlah kaderisasi di dua tahun terakhir—hanya 2 angkatan di 2024 dan 1 angkatan di 2025. Ada pula yang memberi apresiasi, karena meskipun menurun, total 114 angkatan tetaplah capaian besar dalam satu periode. Tepuk tangan sesekali terdengar, bersaing dengan suara meja yang diketuk untuk meminta ketertiban. Begitulah suasana kongres: penuh gairah, penuh perdebatan, tetapi selalu dalam bingkai cinta pada organisasi.
Di sela-sela perdebatan itu, terselip rasa letih. Kader di ranting dan anak cabang menceritakan bagaimana mereka merasa kesepian di dua tahun terakhir. Kegiatan menurun, kebersamaan merosot, bahkan ada yang bertanya-tanya apakah semangat Laskar Keadilan masih hidup. Namun pada saat yang sama, ada pula yang menolak pesimisme. Mereka mengatakan, inilah bagian dari perjalanan belajar. Setiap organisasi pasti melewati fase pasang surut. Yang penting bukan hanya mengeluh, tetapi bagaimana bangkit dan memperbaiki.
Inilah yang membuat Kongres II berbeda dari sebelumnya. Ia bukan hanya forum politik, melainkan juga forum emosional, forum perasaan kader yang ingin didengar. Tidak ada yang menyangkal bahwa periode pertama punya banyak catatan, tetapi juga tidak ada yang menolak bahwa periode pertama memberi pengalaman tak ternilai. Dari sanalah lahir keyakinan baru: periode kedua harus lebih dewasa, lebih mandiri, dan lebih berdampak.
Saya membayangkan, dalam sesi pemilihan ketua umum nanti, suasana akan sangat tegang. Para kandidat maju ke depan, menyampaikan visi mereka. Kata-kata mereka disimak dengan seksama. Kader tidak lagi mudah terpikat oleh retorika kosong. Mereka ingin mendengar solusi nyata: bagaimana membangun kembali kaderisasi, bagaimana menghidupkan kebersamaan. Kader ingin mendengar jawaban, bukan janji.
Di pojok aula, mungkin ada kader muda yang berbisik: “Kita butuh ketua umum yang bisa merangkul semua, bukan yang hanya memikirkan kelompoknya.” Bisikan itu sederhana, tapi mencerminkan harapan banyak orang. Kader tidak ingin lagi terjebak dalam perpecahan. Mereka ingin organisasi ini kembali menjadi rumah bersama, tempat semua orang merasa punya tempat.
Di luar ruang sidang, suasana lebih cair. Kader saling bercanda, saling melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Ada yang bercerita tentang perjuangan mereka di ranting, ada yang mengenang masa-masa awal organisasi berdiri. Semua itu menunjukkan satu hal: meskipun ada perbedaan, ada keletihan, ada kekecewaan, rasa memiliki terhadap Laskar Keadilan masih kuat. Inilah modal terbesar untuk bangkit.
Lalu, apa yang harus kita pelajari dari periode pertama? Pertama, bahwa semangat besar di awal tidak cukup tanpa konsistensi. Tahun 2022 yang penuh ledakan kaderisasi membuktikan bahwa kita bisa besar, tapi penurunan di 2024–2025 membuktikan kita rapuh jika tidak menjaga ritme. Kedua, bahwa organisasi tidak bisa hidup hanya dari idealisme. Kader butuh dukungan, organisasi butuh Kemandirian. Tanpa itu, semangat cepat meredup. Ketiga, bahwa kepemimpinan harus adaptif. Ketua umum bukan hanya simbol, tapi penggerak yang mampu mendengar suara kader paling bawah.
Dari sini, saya yakin pemimpin baru yang lahir dari Kongres II harus berani membawa arah baru. Ia harus memulai program kemandirian kader, entah lewat koperasi, pelatihan wirausaha, atau jaringan usaha antar kader. Ia harus berani menata ulang sistem kaderisasi, lebih fokus pada kualitas daripada sekadar jumlah. Ia juga harus membangun ruang komunikasi yang sehat, di mana kritik diterima sebagai masukan, bukan ancaman.
Tentu, jalan ini tidak mudah. Tapi bukankah organisasi besar lahir dari keberanian menghadapi kesulitan? Saya yakin, setelah lima tahun belajar, kita sekarang lebih siap. Kita tahu di mana kelemahan kita, dan kita tahu apa yang harus diperbaiki. Kongres II adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bukan hanya bisa bertahan, tapi juga bisa bangkit lebih kuat.
Akhirnya, saya ingin menutup refleksi ini dengan sebuah keyakinan. Bahwa Kongres II bukan akhir, melainkan awal baru. Awal dari periode kedua yang lebih dewasa. Awal dari perjalanan yang tidak hanya mengandalkan semangat, tapi juga strategi. Awal dari organisasi yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Saya yakin dan percaya, Laskar Keadilan bisa bangkit. Selama kita bersatu, saling percaya, dan setia pada amanah Gerakan Perjuangan, organisasi ini tidak akan punah. Kongres II adalah momentum untuk membuktikan hal itu. Mari kita sambut dengan hati yang jernih, pikiran yang terbuka, dan tekad yang kuat.
Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan berapa banyak kita berdebat, tetapi sejauh mana kita bisa belajar dari masa lalu dan melangkah lebih jauh ke depan. Dan saya percaya, Laskar Keadilan sudah siap untuk itu.
Awwww... Awwwwww...
Awwwwwwww... 😎😎😎

